Google Translate

PENGIRIMAN DAN PENANGANAN HEWAN SEBELUM PEMOTONGAN


BAB I
PENDAHULUAN

1.1.Latar Belakang
Suatu penyediaan daging yang baik untuk masyarakat diperlukan keadaan hewan yang akan dipotong  yang sehat. Untuk mendapatkan hewan yang sehat diperlukan perlakuan dalam pengiriman ataupun penanganan sebelum hewan di potong. Tidak kalah pentingnya adalah proses pemotongan serta pasca pemotongan hingga distribusi ke konsumen. Sehingga nantinya konsumen/masyarakat akan mendapatkan daging yang ASUH untuk dikonsumsinya.
Namun perlu diperhatikan, dalam pengiriman dan penanganan hewan ternak terdapat banyak ketidakbenaran perlakuan. Misalnya kasus baru – baru ini tentang pengiriman dan penanganan sapi impor yang tidak manusiawi dilakukan oleh oknum – oknum tertentu. Sehingga perlu dilakukan pemahaman yang baik, efek stress ataupun penanganan hewan yang tidak baik dapat menyebabkan kualitas daging menjadi buruk. Selain itu, menentang norma dan asas kemanusiaan.

1.2. Rumusan Masalah
a.       Bagaimana cara melakukan pengiriman atau transportasi hewan yang baik dan benar?
b.      Bagaimana penanganan hewan sebelum disembelih?
c.       Apa saja kasus penanganan dan pengiriman hewan di Indonesia?


1.3. Tujuan dan Manfaat
a.       Mengetahui cara pengiriman hewan yang baik dan benar.
b.      Mengetahui cara  penanganan hewan sebelum disembeli
c.       Permasalahan pengiriman dan penanganan ternak di Indonesia.


BAB II
PEMBAHASAN

2.1. Pengiriman/Pengangkutan Hewan
            Transportasi ternak atau pengiriman ternak sangat penting dalam proses penyembelihan yang akan dilakukan karena mengingat akan kesejahteraan hewan (mencegah hewan stress dan memperhatikan animal welfire) serta jika penanganan yang salah dapat mengakibatkan kerugian ekonomi serta potensi kerugian – kerugian produksi seperti kematian, dehidrasi, dan kualitas daging.
      Hal – hal yang perlu diperhatikan dalam kesejahteraan hewan yang akan di kirim atau di angkut misalnya  metode memuat dan menurunkan hewan yang baik dan benar tanpa ada tekanan fisik yang berarti yang dapat menimbulkan stress pada hewan. Selain itu perlu diperhatikan kelelahan dan lama waktu perjalanan. Dehidrasi dan haus merupakan masalah serius untuk unggas dan babi, namun tidak begitu masalah serius untuk ruminansia karena rumennya bertindak sebagai penampungan.
            Isu – isu utama dalam pengangkutan hewan yang menjadi permasalahan bagi kesejahteraan hewan seperti :
a.       Stress panas dan dingin, hal yang mengakibatkan seperti kecederaan, inspeksi, dan standar alat pengangkutan.
b.      Pengemudi yang tidak memiliki kompetensi
c.       Kelaparan, dehidrasi dan kehausan
d.      Tingkat kepadatan populasi di atas angkutan
e.       Mabuk perjalanan

Lama perjalanan  di negara Amerika serikat  UU 28 jam (1873) berisi kebijakan seperti
a.       Mensyaratkan bahwa hewan – hewan yang ditransportasikan lebihdari 28jam dan menyeberangi wilayah Negara Bagian harus diturunkan sedikitnya 5jam untuk beristirahat,diberi air dan pakan.
b.      Dapatdiperpanjang menjadi 36jam atas permintaan
c.       Diamandemen di tahun1994 untuk termasuk diangkut dengan angkutan darat



Menurut pedoman di Australia, transportasi darat bagi sapi (<48 24="" 8="" air.="" angkut="" babi="" dan="" di="" dilakukan="" eropa="" jam="" kecuali="" kendaraan="" lalu="" menurut="" pedoman="" regulasi="" span="" spesifik.="" spesifikasi="" style="mso-spacerun: yes;" tanpa="" transportasi="" untuk="" waktu="">  dengan air di atas angkutan (untuk babi) atau 29 jam dengan spot istirahat (sapi dewasa dan domba)



 













Gambar 1. Transportasi ternak stress panas dan dingin

            Standar kendaraan pengangkutan meliputi :
a.       Lantai tidak licin dengan kekuatan yang memadai
b.      Alas lantai yang mampu menyerap atau yang dapat mudah dibersihkan dari urine dan feces.
c.       Luas ruang yang cukup untuk badan dan kepala
d.      Ventilasi yang  memadai
e.       Mudah dibersihkan dan tidak licin/membuat terpeleset
f.       Tidak ada pinggiran yang tajam atau tonjolan-tonjolan
g.      Sudut memuat hewan yang sesuai
h.      Pencahayaan



Kendaraan spesifikasi tinggi di Uni Eropa meliputi persyaratan :
a.       Alas tidur yang cukup
b.      Makanan yang sesuai dan cukup
c.       Akses langsung terhadap hewan
d.      Ventilasi yang baik
e.       Penyekat kandang yang dapat dipindah-pindah
f.       Kendaraan yang dilengkapi dengan penghubung kesuplai air ketika berhenti

Kompetensi pengemudi, pengemudi ialah orang yang bertanggung jawab pada saat pengiriman ternak tersebut dan harus memenuhi syarat sebagai berikut :
a.       Persyaratanotorisasi
b.      Konstruksi kendaraan dan UU Kesejahteraan
c.       Bagaimana:
·         Merencanakan perjalanan dan prediksi hal-hal yang dapat terjadi
·         Dokumen lengkap
·         Memuat,operasikan dan mengontrol kendaraan
d.      Kapan mencari pertolongan
e.       Pengemud iharus memahami:
·         Menangani hewan selama memuat dan menurunkannya
·         Persyaratan spesies spesifik
·         Persyaratan ruang gerak
f.       Mengetahui efek dari iklim terhadap hewan
g.      Mengatu rventilasi yang sesuai
h.      Membersihkan kendaraan angkut dan disinfeksi
i.        Tanda-tanda stress dan sakit –sehat
j.        Mengurus yang tidak sehat atau yang cedera
k.      Peraturan untuk mengangkut hewan cedera






Hal – hal yang harus diperhatikan saat memindahkan unggas meliputi :
a.       Memindahkan unggas dari kandang – kandang
·         Petugas dibayar berdasarkan jumlah ekor
·         Kesakitan pada kaki di broiler/kalkun
·         Patah tulang di ayam petelur
b.      Stress panas di ayam pedaging
c.       Stress dingin di masa akhir bertelur pada ayam
d.      Lama waktu perjalanan
e.       Akses terhadap pakan dan air


 













Gambar 2. Data rata -  rata unggas mati setelah di angkut

Hal – hal yang perlu diperhatiakan saat memindahkan babi. Babi akan takut saat memuat atau menurunkannya diakibatkan oleh : menggunakan pengejut listrik, mencampur ternak, sudut jembatan penurunan terlalu curam, kendaraan gelap dan tempat untuk beristirahat yang minim. Babi sering mengalami stress panas, dehidrasi, mabuk perjalanan, dan cedera akibat berdesakan. 26% dari 50 babi seberat 80 kg ditransportasikan di kendaraan ternak komersial muntah atau mual dan 50% menunjukan gejala mulut berbusa atau chomping (Rendall, et.al 1998)

Aturan Konsil Kesejahteraan Hewan di Uni Eropa sewaktu Ditransportasikan dikenal sebagai EU Welfare of Animals during Transport Council Regulation (EC) No.1/2005 :
·         Babi yang usianya kurang dari 3  minggu tidakb oleh ditransportasikan lebih dari100 km
·         Babi yang beratnya kurang dari 10kg tidak boleh ditransportasikan lebih dari 8 jam kecuali bersama induknya.

Transportasi anak sapi. EC no.1/2005 (konsil untuk transport hewan di UE) :
·         Anak sapi usia kurang dari 10 hari tidak boleh di transportasikan lebih dari 100 km
a.       Anak sapi usia kurang dari 14 hari tidak boleh ditransportasikan lebih dari 8 jam kecuali bersama induknya

Transportasi kuda. EC no.1/2005 atau regulasi untuk kesejahteraan pada transport hewan di UE
b.      Perjalanan tidak dapat lebih dari 8 jam bilamana :
o   Kuda-kuda masih liar (tidak terbiasa ditangani manusia)
o   Kuda-kuda usia kurang dari 4 bulan (kecuali bersama induknya)
o   Kuda-kuda ditransportasikan secara berkelompok dan tidak dipisahkan secara sendiri – sendiri

Pertimbangan saat mentransportasikan hewan yaitu.
a.       Emergency dan kecederaan – kecederaan
b.      Sakit dan tercedera
c.       Bunting tua
d.      Baru lahir (misalkan.sapi perah jantan)
e.       Tidak disapih
Hewan yang tidak boleh ditransportasikan meliputi
a.       Yang tidak mampu bergerak sendiri atau untuk berjalan harus di bantu
b.      Mempunyai luka terbuka yang parah atau adanya prolapsus
c.       Betina bunting diperiode 10% terakhir masa kebuntingannya, atau yang baru beranak minggu sebelumnya
d.      Mamalia yang baru lahir dengan pusar yang belum sembuh

2.2. Penanganan Hewan Sebelum Pemotongan
Pada pemeriksaan hewan sebagai penjaminan hewan yang sehat, memerlukan langkah-lamngkah yang runtut dan harus dilakukan. Antara lain diperlukan kemampuan atau kompetensi yang memadai agar dapat melakukan langkah-langkah dengan memahami alasan dengan baik. Penjaminan hewan sehat sangat penting karena secara tidak langsung atau secara langsung akan menghambat transmisi penyakit. Terlebih sekarang banyak penyakit hewan yang terdeteksi dapat menular pada manusia atau sebaliknya.Salah satu upaya yang dilakukan ialah dengan pemeriksaan ante mortum dan post mortum.Tempat pemotongan yang telah disiapkan secara formal adalah Rumah Potong Hewan, karena mempunyai fasilitas gedung dan kelayakan yang memadai, serta tenaga kesehatan hewan yang kompeten. Rumah Potong Hewan terdiri atas berbagai tipe :
1.      Line system : suatu usaha RPH yang secara structural merupakan perusahaahn yang lengkap dengan fasilitas dan tenaga akhli
2.      Booth system : merupakan perusahaan bidang jasa, karena hanya menyewakan fasilitas yang dapat disewa orang lain

Pengistirahatan Hewan
Hewan yang akan di sembelih harus dilakukan pengistirahatan minimal 12 jam sebelum di lakukan keputusan penyembelihan. Hewan sebaiknya diletakkan pada tempat yang nyaman, teduh, tidak diberi pakan atau dipuasakan selama 8 jam supaya isi perut (feses) dapat keluar, sehingga pada saat disembelih hewan dapat meminimalkan cemaran dari digesta. Istirahat pada hewan di tujukan agar darah terkonsentrasi pada peredaran darah besar, sehingga pada penyembelihan darah hewan dapat tuntas keluar.

Pemeriksaan ante mortum
Pemeriksaan kesehatan sebelum hewan disembelih dilakukan sesuai dengan kaidah pemeriksaan yaitu dilakukan persistema, mulai dari penampilan luar sampai indicator medic yang spesifik. Misalnya dari pandangan luar apakah terdapat kecacatan tubuh, pincang, tidak mempunyai testes, kondisi tubuh kurus, turgor kulit jelek, penyakit kulit dan sebagainya. Pemeriksaan yang lebih mendalam meliputi :
1.      Kondisi gigi geligi, warna bau mulut
2.      Kondisi mata, apakah merah, pucat atau mempunyai tahi mata
3.      Telinga tegak atau turun, bau telinga
4.      Cuping hidung basah atau kering
5.      Pernafasan meliputi tipe nafas, jumlah frekuensi respirasi
6.      Suhu tubuh
7.      Bagian anus dan ekor apakah kotor bekas tinja
8.      Tanda-tanda yang menimbulkan kecurigaan pada kulit, abses, kudis dll
9.      Turgor kulit
10.  Gangguan gerak
Sebagai contoh gejala yang dapat di amati ialah :
a.       Anthraks : menunjukkan gejala keluarnya darah dari semua lobang alami
b.      Radang paha /boutvur : inkoordinasi gerak, krepitasi pada paha
c.       AE : hypersalivasi, lepuhan pada mulut dan kuku
d.      Enteritis : kotor pada pantat dan ekor
Manual Kesmavet (1993) mengutarakan bahwa pemeriksaan ante mortem dilaksanakan dengan mengamati dengan seksama hewan potong yang akan disembelih mengenai:
a.       Sikap hewan potong pada saat berdiri dan bergerak yang dilihat dari segala arah.
b.      Lubang kumlah, selaput lendir mulut, mata dan cermin hidung.
c.       Kulit, kelenjar getah bening sub maxillaris, parotidea, prescapularis dan inguinalis.Ada atau tidaknya adanya tanda-tanda hewan potong telah disuntik hormon dan suhu badannya.
d.      Mengadakan pengujian laboratorik apabila terdapat kecurigaan tentang adanya penyakit yang tidak dapat diketahui dalam pengamatan.

Keputusan pemeriksaan ante mortum
Setelah dilakukan pemeriksaan antemortum maka dapat disimpulkan keputusa sebagai berikut: 1.Diijinkan untuk disembelih
a.       Sehat diijinkan untuk di sembelih
b.      Disembelih dengan syarat
2.Ditolak untuk disembelih
a.       ditolak ------- > untuk dimusnahkan
b.      ditunda : misalnya pada saat kelelahan, memerlukan observasi lebih lanjut untuk menunggu kepastian penyakit yang diderita.



2.3. Permasalahan Dalam Transportasi dan Penanganan Ternak
A. Angkutan Ternak Belum Jelas
Kementerian Perhubungan terus mengkaji angkutan khusus ternak dari sentra produksi ternak ke ibukota provinsi yang membutuhkan. Salah satu yang dikaji adalah faktor efisiensi antara mengangkut ternak dalam kondisi hidup atau sudah dalam wujud daging potong. Disini masalah masih adanaya penyatuan penumpang dan ternak, ini sering terlihat pada ayam kampung yang di angkut oleh pemilikinya di dalam kereta api. Pemerintah masih terus mengkaji beragam konsep terkait distribusi daging sapi. Kementerian Negara BUMN, misalnya, mengusulkan dibangunnya rumah potong hewan (RPH) di kawasan sentra produksi ternak, sehingga hewan ternak tak perlu diangkut ke daerah tujuan dalam kondisi hidup. Pengangkutan ternak selama ini dilakukan dalam kondisi hidup, dengan risiko hewan tersebut stres dan berat badannya menyusut (Tribunnews, edisi Jumat, 22 Februari 2013).

B. Masih Banyaknya Terjadi Kekerasan Hewan Di Indonesia (Kasus Sapi Ekspor Dari Australia)
Isu yang paling hangat tentang transportasi dan penanganan hewan adalah kasus tentang sapi Australia yang diperlakukan kasar sebelum dipotong.  Ini terjadi bukan di luar RPH, melainkan di RPH sendiri. Berarti masih banyak RPH yang belum memenuhi standar dan tidak mementingkan kesejahteraan hewan.
Kasus ini dimulai dari video kekerasan sapi sebelum dipotong yang terjadi di Indonesia mengakibatkan menteri pertanian Australia Joe Ludwig menurunkan tim pemeriksa independentnya untuk memastikan keadaan RPH Indonesia yang belum memenuhi standar Internasional. Kasus ini juga mengakibatkan penghentian ekspor sapi ke Indonesia yang bernilai US$340 juta.  Australia juga akan memberi sanksi jika memang hal tersebut terjadi di Indonesia. Wakil menteri Pertanian Rusman Heriawan mengakui bahwa beberapa RPH di Indonesai belum memenuhi standar Internasional khususnya standar Australia, maka dari itu perlu evaluasi dan pembenahan terhadap RPH yang belum memenuhi standar tersebut (BBC Indonesia, edisi 29 Februari 2012)


BAB III
PENUTUP

3.1. Kesimpulan
            Transportasi ternak atau pengiriman ternak sangat penting dalam proses penyembelihan yang akan dilakukan karena mengingat akan kesejahteraan hewan (mencegah hewan stress dan memperhatikan animal welfire) serta jika penanganan yang salah dapat mengakibatkan kerugian ekonomi serta potensi kerugian – kerugian produksi seperti kematian, dehidrasi, dan kualitas daging. Hal – hal yang perlu diperhatikan saat hewan sampai dan penanganan yang perlu dilakukan ialah mengistirahatkan hewan agar mengurangi tingkat stressnya, selain itu pemeriksaan ante mortem untuk mendapatkan keputusan apakah hewan dapat dipotong ataukah tidak.
            Masih banyak kasus penyimpangan kesejahteraan hewan yang terjadi di Indonesia yang diakibatkan belum memenuhinya sarana dan prasaran, seperti kasus belum ada transportasi khusuh untuk hewan yang memenuhi standar internasional. Selain itu masih kurangnya kesadaran akan kesejahteraan hewan sehingga sampai terjadi kekerasan yang dilakukan oleh oknum RPH yang mengakibatkan penghentian sementara ekspor sapi oleh Australia.

3.2. Saran
            Dalam pengiriman dan penanganan hewan perlu pemahaman dan kepedulian dari pihak yang terlibat di dalamnya. Pihak – pihak tersebut, seperi pemilik hewan, sopir angkutan hewan, petugas RPH dan lainnya. Pihak tersebut hendaknya memperhatikan hewan yang dikirim dan hewan yang ditangani sebelum dipotong untuk mendapatkan kualitas daging yang baik.


DAFTAR PUSTAKA

BBC Indonesia.2012. Wamentan:Beberapa RPH Tidak Ikut Aturan. http://www.bbc.co.uk/indonesia/berita_indonesia/  edisi 29 Februari 2012.
Pratiwi, T.S. 2012. Pemeriksaan karkas. Diakses 10 April 2013
Tribunnews.2013.Angkutan ternak belum jelas. http://m.tribunnews.com/bisnis/industri edisi 22 Februari 2013.
Warriss Pd, Bevis Ea, Brown Sn, Edwards Je. 1992: Longer journeys to processing plants are associated with higher mortality in broiler chickens. British Poultry Science 33: 201-206.
Webster, J., 1995: Animal Welfare: A Cool Eye Towards Eden.Blackwell Science

Tidak ada komentar:

Baca Juga Artikel Yang Lainnya:

·