Google Translate

Bunyairidae


BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang

Iklim berperan dalam setiap kejadian penyakit dan kematian, oleh karena penyakit bounded terhadap ekosistim. Dan manusia bagian dari sebuah ekosistim. Sementara itu kejadian penyakit merupakan inti permasalahan kesehatan. Sementara kesehatan merupakan salah satu kontributor utama penyebab kemiskinan. Telaah juga mengindikasikan, ada tiga variabel utama yang harus dilakukan secara simultan yakni pendidikan, kesehatan dan pengendalian kemiskinan (perbaikan ekonomi). Paradigma Kesehatan Lingkungan pada hakekatnya juga merupakan model patogenesis kejadian penyakit. Tidak semua variabel dipengaruhi oleh perubahan iklim. Namun perubahan iklim secara langsung maupun tidak langsung berpengaruh terhadap model hubungan berbagai variabel kependudukan dan lingkungan tersebut.

Cuaca dan iklim berpengaruh terhadap patogenesis berbagai penyakit yang berbeda dan dengan cara berbeda satu sama lain pula. Salah satu pengaruh perubahan iklim adalah terhadap potensi peningkatan kejadian timbulnya penyakit yang ditularkan oleh nyamuk seperti Malaria, Radang Otak akibat West Nile virus, Hantaan virus, Filariasis, Japanese Encephalitis, dan Demam Berdarah. Malaria menyerang hampir 100 negara, dan 41% penduduk dunia berada dalam kelompok at risk. Penduduk miskin memiliki risiko tinggi terhadap penyakit malaria. Sebaliknya Malaria merupakan salah satu penyebab kemiskinan sebuah wilayah. Dengan kata lain memberantas kemiskinan merupakan investasi pengendalian malaria dan sebaliknya mengendalikan malaria merupakan investasi pengentasan kemiskinan. Perubahan iklim akan mempengaruhi pola penularan malaria. Peningkatan suhu akan mempengaruhi perubahan bionomik atau perilaku menggigit dari populasi nyamuk, angka gigitan rata-rata yang meningkat (biting rate), kegiatan reproduksi nyamuk berubah ditandai dengan perkembangbiakan nyamuk yang semakin cepat, masa kematangan parasit dalam nyamuk akan semakin pendek.

Penyakit-penyakit ini selain berkaitan dengan perubahan iklim, juga berkaitan dengan perubahan perilaku dan mobilitas penduduk bumi. Tingginya radiasi ultraviolet juga diperkirakan menurunkan daya tahan tubuh terhadap mikroba patogen, yang pada akhirnya menjadikan mudah terkena penyakit infeksi. Kepadatan, pencemaran lingkungan dan lain sebagainya juga mempengaruhi timbulnya penyakit infeksi baru. Mengingat dalam era pasar bebas sejak tahun 2003, peningkatan pembangunan di segala bidang akan meningkatkan pula arus keluar-masuknya wisatawan domestik maupun mancanegara maupun frekuensi perjalanan masyarakat/penduduk antar kota, pulau dan propinsi meIaIui pelabuhan darat, laut dan udara maka diperlukan antisipasi sedini mungkin akan kemungkinan mewabahnya penyakit tersebut.

1.2 Rumusan Masalah

1.2.1 Apa itu Bunyairidae..?

1.2.2 Apa jenis-jenis Bunyairidae..?

BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Bunyaviridae

Bunyaviridae adalah keluarga virus yang menyerang mamalia dan burung, serta arthropoda.[1] Bunyaviridae memiliki ciri virion yang berbentuk sferis dengan diameter 90-100nm, dan membentuk selubung lipid yang tebuat dari glikoprotein.[1] Virus ini memiliki tiga buah nukleokapsid berbentuk heliks.[1] Genom tersusun dari RNA utas tunggal yang memiliki tiga segmen berukuran besar, sedang, dan kecil.[1]

Berdasarkan karakteristik genom, antigen nukleokapsid, dan cara transmisi, Bunyaviridae dibagi menjadi beberapa genus, yaitu Bunyavirus yang banyak menginfeksi nyamuk, Phlebovirus yang menyerang tungau, Hantavirus (Virus Hanta) yang menyerang arthopoda dan hewan pengerat, dan Nairovirus yang menyebabkan penyakit hemorrhagic

2.2 Jenis-jenis Bunyaviridae

Terdapat beberapa Spesies Bunyaviridae yang dikenal di dunia. Jenis-jenis tersebut dapat menmbulkan penyakit, yaitu :

2.2.1 Bunyaviridae phlebovirus

Definisi

"Bunyaviridae phlebovirus" biasa disebut Rift Valley Fever (RVF) adalah penyakit akut yang disebabkan oleh kuman penyakit. Penyakit ini menyerang manusia dan hewan.

sejarah

Bunyaviridae phlebovirus, pertama kali ditemukan tahun 1931 di Afrika Timur terutama masa perternakan domba, namun tidak masuk klasifikasi arbovirus seperti flu dengan disertai infeksi pada retina. Eksperimen mengenai phlebovirus ini dilakukan di sebagian wilayah Sahara-Afrika dan Madagaskar.

infeksi

Ada tiga cara penyebaran/penularan yang utama dari RVF:

Ø Penularan lewat kulit,

Ø Penularan lewat udara, serta

Ø Penularan lewat nyamuk atau gigitan serangga lainnya.

Contoh penularan lewat gigitan nyamuk : Ae. cumminsii, Ae. circumluteolus, dan Ae. Mcintoshi adalah tiga spesies nyamuk penyebab Bunyaviridae phlebovirus, namun siklus infeksinya belum ditemukan hingga saat ini. Virus ini juga ditularkan lewat kontak langsung dengan darah, proses sekresi,atau ekskresi dari binatang yang terinfeksi. Karena RVF menyerang ternak, bersinggungan langsung (menyembelih atau sekedar memelihara) ternak yang terinfeksi dapatmembantu proses penularan RVF. Dapat pula disebabkan karena memakan daging ternak yang telah terinfeksi.

Ternak yang terinfeksi

RVF hidup didalam hati dan otak, virus ini mungkin juga menyerang pembuluh darah otak dan menginfeksi neuron dan glia.

inkubasi

Masa inkubasi dari VRF berkisar antara 2-6 bulan

Gejala.

Beberapa pasien tidak menunjukkan adanya gejala, namun beberapa diantaranya mendapat serangan ringan secara mendadak(tiba-tiba) dengan dua tahap pada hati dan ginjal yang tidak berfungsi. Komplikasi yang sering terjadi adalah retinitis dengan scotoma ditengah. 1%-10% penderita biasanya sembuh total. Namun penyakit biasanya muncul(dirasakan) setelah 2-7 hari setelah timbul gejala. Penyakit ini menyerang manusia hanya sebesar 1%, selebihnya menyerang ternak (100%) dan domba yang baru lahir (90%).Dalam beberapa kasus, penyakit ini berubah menjadi kasus yang serius. Gejala disertai penyerangan, myalgias dan radang otak disertai sakit kepala, koma dan serangan tiba-tiba. Gejala lain meliputi : sakit kambuhan, pusing, dan hilangnya berat badan secara ekstrim(anjlog). Dalam kasus ekstrim dijumpai penderita mengalami pendarahan, rusaknya(pecah) pembuluh vaskular yang diikuti syok dan kematian.

Kasus hebat dalam RVF dibagi dalam 3 kategori:

· disfungsi hati disertai pendarahan

· infeksi pada retiina dengan penglihatan yang melemah(buruk)

· radang selaput otak.

D. PENGOBATAN

Ribavirin, yang digunakan untuk mengobati demam lassa menunjukkan antivirus yang menjanjikan. Pengobatan yang lain juga menunjukkan hal yang menjanjikan, seperti : interferon, modulator immune dan convalescent-phase plasma. Sekarang ini, tidak ada pengobatan yang spesifik untuk penyakit ini. Pengobatan untuk hewan tidak 100% berhasil bagi manusia.

2.2.2 Simbuvirus

Virus ini dari famili Bunyaviridae. Virus ini memiliki materi genetic yang tersusun atas RNA, berbentuk bulat dan ukurannya antara 70-130 nm. Virus ini dapat menyebabkan penyakit Arthrogryposis (AG) dan Hydrancephaly (HE). Merupakan penyakit non contagious pada kambing, domba yang ditandai dengan artrogriposis, skoliosis, kriposis (lordosis thoracolumbar), tortikolis, miodisplasia, perubahan system saraf pusat seperti ensefalomielitis limfositik, hidransefali, bentukan ruang kiste dan tidak adanya neuron di dalam medulla spinalis, keguguran, mummifikasi fetus dan kelahiran cacat. Penyakit ini juga dapat menyerang sapi.

Epidemiologi

Distribusi Geografis

Penyakit ini pertama kali ditemukan di Jepang pada tahun 1961. Kemudian dilaporkan pula terjadi di Australia, Israel, Kenya, Siprus,Thailand dan Indonesia. Di Indonesia penyakit ini diduga terjadi di Jawa Tengah pada tahun 1981, pada sapi impor dari Australia yang melahirkan anak sapi dengan gejala arthrogryposis, mummifikasi fetus, abortus dan fetus dengan gejala hydrancephaly.

Hewan Terserang

Penyakit ini menyerang kambing, domba dan sapi. Ternak bunting yang dimasukkan dari daerah bebas penyakit Akabane ke daerah tertular menjadi sangat peka dan sebagai akibatnya dapat terjadi abortus, mummifikasi fetus, lahir dini dengan gejala AG dan HE.

Cara Penularan

Penyakit ini ditularkan melalui gigitan vektor Culicoides sp. Di Australia yang menjadi vektor adalah C. brevitarsis.

Gejala Klinis

Akabane ditandai dengan cacat tubuh pada keturunan yang dilahirkan dari hewan yang peka. Cacat tubuh berupa pembengkokan persendian yang bersifat permanen pada kaki (arthrogryposis), pembengkokan leher (tortikolis), pembengkakan tulang punggung (scoliosis) dan hydrancephaly.

Otot gerak dapat mengalami atrofi sehingga anak yang dilahirkan tidak dapat berdiri. Pada induk dapat terjadi keguguran, lahir dini,kelahiran cacat dan mummifikasi fetus. Anak yang lahir dapat hidup dalam beberapa bulan dengan gejala gangguan koordinasi, ataxia, kebutaan, disfagia atau gangguan regurgitasi.

Diagnosa

Penyakit dapat didiagnosa berdasarkan gejala klinis, perubahan patologis dan isolasi virus. Specimen untuk isolasi virus dapat berupa jaringan otak, cairan otak, sumsum tulang belakang, otot, plasenta, fetus dan cairan amnion dari fetus yang masih segar, disamping itu juga diambil serum untukk deteksi antibodi. Pemeriksaan histopatologis diambil dari semua jaringan. Antibodi dapat dideteksi dengan uji serologis seperti serum netralisasi (SN), HI atau ELISA.

Diagnosa Banding

Penyakit ini mirip dengan Bluetongue, Infeksi Virus Aino, Penyakit Akibat Faktor Genetik, zat kimia teratogenik atau tumbuhan beracun.

Pencegahan dan Pemberantasan

Hewan yang sakit dipisah dengan yang sehat dan hewan yang peka dilarang masuk ke daerah kasus atau hewan sakit dilarang masuk ke daerah bebas.

Pencegahan dengan vaksinasi menggunakan vaksin aktif dan inaktif.

2.2.3 Hantavirus

GEJALA

Gejala/sindrom klinis HFRS adalah demam gangguan pernafasan atas ringan, berbagai manifestasi perdarahan, dan insufisiensi renal (hematuria, proteinuria. oligoria atau serum creatinin di atas normal). Pasien tanpa gejala insufiensi renal tetapi telah dikonfirmasi negatif infeksi Dengue, chikungunya, hepatitis A, B dan C dapat diikutsertakan. Pasien yang sedang menjalani hemodialis tanpa diketahui sebab infeksinya bisa diikutsertakan. Pengambilan serum darah pasien akan dilakukan pada tahap akut, konvalesen dan dua bulan setelah sakit. Pemeriksaan serologis (IgM dan IgG) dilakukan untuk mengetahui adanya infeksi baru atau lama. Identifikasi spesies dan strain hantavirus yang menginfeksi akan dilakukan pada serum yang antigenik dan pendekatan genetik positif. Teknik pemeriksaan

yang diperlukan adalah IFA atau ELISA, RT -PCR, Immunoblotting, sekuensing dan analisa filogenetik.

Beberapa laporan dari beberapa daerah kota pelabuhan laut maupun daerah pedalaman di Indonesia menunjukkan prevalensi antibodi terhadap infeksi Hantavirus pada manusia sehat berkisar antara 1,1%-28,9% sedangkan pada hewan rodensia (tikus dan mencit) dan insektivora (cecurut) dilaporkan dari enam pelabuhan laut di Indonesia dengan prevalensi antibodi 0,l%-100%. Penelitian epidemiologis komprehensif, menyeluruh dan mendalam

SEJARAH

Penyakit zoonotik bersumber rodensia terutama penyak itinfeksi Hantavirus dikenal denganpenyakit demam berdarah dengan sindrom renal (Haemorrhagic Fever with Renal Syndrome/HFRS) yang disebabkan oleh beberapa spesies virus dari genus Hantavirus, famili Bunyaviridae adalah salah satu emerging diseases yang penting dengan "angka kematian" menurut WHO. Genus hantavirus yang menyebabkan penyakit pada manusia diketahui terdiri dari spesies virus Hantaan (HTNV), virus Seoul (SEOV), virus Dobrava (DOBV), virus Puumala (PUUV) dan virus sin-nombre (SNV).

Penyakit ini disebabkan oleh beberapa spesies virus dari genus Hantavirus. Salah satunya yang dikenal dengan demam Korea disebabkan oleh virus Han-taan. Waktu terjadi wabah dikalangan pasukan Perserikatan Bangsa- Bangsa (PBB) di Korea pada tahun 1951 (Chan,1987). Angka kematian akibat virus Hantaan berkisar antara 5%-15% (WHO, 1982). Virustersebut dapat diisolasi dan ditemukan di daerah wabah yang kemudian dikenal sebagai virus Hantaan sesuai dengan nama sungai yang terdapatdi antara Korea Utara dan Korea Selatan. Berbeda dengan empat (4) spesies virus yang disebut pertama, spesies yang terakhir menyebabkan penyakit dengan sindrom paru-paru yang disebut hantavirus pulmonary syndrome (HPS) yang pada tahun 1993 mulai dikenal dan mewabah di Amerika Serikat.

CARA PENULARAN

Hantavirus ditularkan ke manusia melalui udara yang terkontaminasi dengan urin atau feses tikus yang infektif. Sedangkan penyebaran tikus yang terinfeksi oleh virus tersebutdapat terjadimelalui kapal. Di Indonesia epidemiologi penyakit yang disebabkan virus ini belum banyak diketahui. Menurut sebagian besar penduduk Indonesia, penyakit yang berhubungan dengan atau ditimbulkan oleh tikus adalah typus(sakitperut). Hal ini menunjukkan bahwa pengetahuan penduduk tentang penyakit yang ditimbulkan oleh rodensia kurang benar atau persepsi mereka terhadap penyakit tersebut salah.

Mengingat bahwa ditinjau dari segi kesehatan pelabuhan dapat merupakan gerbang penularan penyakit antar daerah, pulau dan negara. Sedangkan penyakit Bersumber rodensia Yang dapat masuk melalui pelabuhan Sering terlupakan.Sementara kota dengan pelabuhan umumnya berkembang menjadi kota besar dan merupakan daerah pemukiman padat penduduk sehingga UlU sanitasi sukar dipertahankan. memungkinkan rodensia hidup berkembang biak dan berkontak dengan manusia. Oleh karena itu pada tahun 1997 telah diadakan penelitian di wilayah pelabuhan Tanjung Priok dan Sunda Kelapa Jakarta Utara. Penelitian tersebut untuk mengetahui jenis rodensia komensal, ektoparasit, prevalensi penyakit zoonotik dan aspek sosialbudaya masyarakat setempat terutama menyangkut persepsi masyarakat terhadap penyakit bersumber rodensia. pengamatan, umumnya selokan yang sekeliling rumah-rumah pendudukairnya kurang mengalir dengan lancar. Berbagai jenis untuk menampung limbah rumah tangga berupa sampah yang digunakan pendudukumunya berupa kantong plastik dan sebagian lagi tidak memiliki penampungan sampah.

Gambaran secara rinci tentang jenis pewadahan untuk menampung sampah terlihat pada Sebenarnya wanita sebagai ibu rumahtangga dan anggota masyarakat jika aktif diorganisasi sangat membantu dalam menumbuhkan wawasan karena mendapatkan informasi/nilai-nilai baru dibidang kesehatan sehingga akan tumbuh motivasi dalam menjalankan hidup bersih dan sehat baik untuk dirinya, keluarga dan lingkungan sekitarnya. Sebaliknya para ibu yang hanya berperan sebagai ibu rumah tangga kurang dapat berperan dalam meningkatkan kesehatan keluarganya serta menjamin kualitas hidup yang lebih baik. Ibu dalam keluarga diharapkan berperan dalam memberikan nasehat tentang tata cara hidup bersih dan sehat. Persepsi masyarakat mengenai terjadinya penyakit kadangkala berbeda dengan konsepsi menurut ilmu kesehatan. Hal itu boleh jadi karena tingkat pendidikan masyarakat yang relatif rendah ditunjang pula kurang nyamen dapatkan informasi tentang penyakit yang dapat ditimbulkan oleh tikus seperti infeksi hantavirus. selainitu persepsi masyarakat yang keliru terhadap penyakit biasanya diperoleh berdasarkan turun temurun yang kadangkala tidak rasional secara medis. Adanya persepsi yang salah dari masyarakat tentang penyakit infeksi Hantavirus atau kejadian penyakit yang ditimbulkan oleh rodensia akan merupakan hambatan dalam upaya meningkatkan kesehatan masyarakat yang bersangkutan.

Persepsi masyarakat mengenai terjadinya penyakit tergantung dari macam penyakit, daerah dimana masyarakat tinggal, tingkat pendidikan, pengetahuan dan lain-lain. Bisa juga berbagai faktor yang melatarbelakangi persepsi disamping faktor pengetahuan juga faktor pengalaman orang yang bersangkutan dari masa lalu tentang penyakit tersebut. Pada dasarnya persepsi juga merupakan proses pengenalan, evaluasi, maupun pemberian arti terhadap lingkungan oleh individu. Kesan yang muncul apakah positip atau negatip akan tergantung pada pengalaman yang diperoleh melalui proses berfikir dan belajar. Selain itu lingkungan sosial ikut berperan di dalam membentuk persepsi seseorang atau masyarakat terhadap suatu penyakit yang dalam hal ini berupa saluran pengaruh baik berupa orang/kelompok masyarakat ataupun mediamasa. Persepsi masyarakat tentang penyakit jelas berbeda dengan konsepsi kesehatan modern. Persepsi masyarakat tentang penyakit pada dasarnya bagaimana pandangan individu memberikan penilaian terhadap kejadian atau seseorang terserang penyakit tersebut, dengan kemungkinan resiko yang dirasakan atau tidak melakukan upaya pencegahan dengan manfaat yang dirasakan atau tidak melakukan suatu upaya karena penyakitnya masih dianggap ringan misalnya masih bisa bekerja, padahal orang bersangkutan baik secara medis maupun klinis positip sakit. Bisa jadi pengetahuan seseorang tentang penyakit diperoleh dari pendidikan baik formal maupun informal. Pendidikan dan pengetahuan masyarakat mengenai kesehatan khususnya penyakit yang berhubungan dengan rodensia masih rendah, maka penduduk kurang mampu untuk mengerti dan memahami akan makna lingkungannya yang sebenarnya.

Pengertian lingkungan yang mereka pahami sebagian besar hanya berdasarkan atas apa yang dilihat dan dirasakan. Masyarakat dapat menerima dan mengerti bahwa lingkungan itu hanya terdiri dari udara, air, tanah, binatang, tanaman dan lain-lain. Mereka memahami adanya berbagai jenis binatang dan tanaman dan diantaranya ada yang merugikan serta dapat digunakan untuk kehidupan. Namun masyarakat belum mengenal adanya berbagai ornganisme penyebab penyakit seperti bakteri, virus dan parasit yang menyebabkan terjadinya penyakit.

PENCEGAHAN dan PENGOBATAN

Walaupun Hantavirus merupakan penyakit yang masih asing bagi masyarakat Indonesia, namun demikian kita harus tetap berhati- hati agar tidak terinfeksi oleh virus tersebut. Dapat dilakukan pencegahan maupun pengobatan. Tanpa disadari oleh penduduk sendiri sikap dan perilaku mereka sudah mengarah pada upaya pencegahan penyakit infeksi Hantavirus yang ditimbulkan oleh rodensia (tikus) walaupun belum seluruh penduduk melakukannya. Ada upaya upaya penduduk membasmi tikus yang berada di sekeliling tempat tinggal mereka baik dengan cara menggunakan racun dan ataupun jebakan. Sikap dan atau tindakan yang dilakukan penduduk tersebut adalah tidak disengaja dapat mencegah atau mengurangi penularan penyakit khususnya yang bersumber dari rodensia seperti penyakit infeksi Hantavirus.

Penanganan terhadap sampah atau limbah rumahtangga yang dilakukan penduduk umumnya cukup baik. Umumnya sampah sebelum dibuang ke temat pembuangan akhir ditampung terlebih dahulu dengan menggunakan bak atau plastik. Sebagian lagi dari sejumlah responden membuang sampah masih kurang benar dalam arti memenuhi persyaratan kesehatan karena sampah dibuang di halaman atau selokan. Pengelolaan sampah yang kurang baik akan memberikan pengaruh negatif terhadap kondisi lingkungan. Hal ini menimbulkan pencemaran dan menjadi tempat yang cocok bagi binatang pengerat terutama tikus dan hewan reservoir lainnya yang mencari mencari sisa makanan dan berkembangbiak dengan cepat sehingga menimbukan berbagai penyakit yang mengganggu kesehatan yang ditimbulkan oleh hewan-hewan tersebut kegiatan-kegiatan atau gejala-gejala yang secara tidak sadar atau tidak disengaja membawa manfaat bagi kesehatan baik individu maupun kelompokdan ini merupakan realitas budaya.

Selain itu juga telah ditemukan cara mengobati penyakit yang ditimbulkan oleh Hantavirus. Yaitu dapat dilakukan dengan memasukkan ke pembuluh darah analog quanosine, yang digunakan untuk menangani HFRS. Dilakukan juga pengontrolan oleh pemeriksaan penurunan keadaan fatal dari pasien yang menjalani penyembuhan HFRS dengan ribavirin. Meskipunaktivitas dari ribavirin bertentangan dengan SNV, pemeriksaan open label telah dilakukan sejak tahun 1993. Ribovirin tidak direkomendasikan untuk pemeriksaan HPS

MORFOLOGI

Virus terdiri dari sebuah selubung dan sebuah nukleokapsid. Selama siklus hidupnya virus memiliki fese ekstraselular hanya terjadi dalam satu fenotip. Virus mungkin terasingkan dalam badan inklusi yang tidak dapat terhentikan dan mengandung sebuah nukleokapsid. Kapsid virus terselubung oleh selembar selubung. Virus sperikal hingga pleomorfi dengan ukuran 100 – 120 – 270 nm dalam diameter. Selubung menyulubungi 3 nukleokapsid, memiliki proyeksi permukaan. Proyeksi permukaan kecil atau tonjolan takterlihat yang terselubungi oleh sebuah fring yang menonjol yang terdapat pada membran lipid bilayer

setebal 5 nm. Proyeksi permukaan menghasilkan struktur seperti jaring sepanjang 5 – 10 nm. Ribosom inang tidak terlihat di dalam selubung, kapsid atau nukleokapsid diperpanjang dangan simetri heliks. Ribonukleokapsid filamentous dengan panjang 200 – 3000 nm dan lebar 2 – 2,5 nm. Nukleokapsid tidak bersegmen nemun sirkuler. 5 tahap daur hidup Haemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS) di dalam tubuh manusia:

􀂙 Febril: demam

􀂙 Hipotensi: syok yang dapat berakhir dalm beberapa jam atau hari

􀂙 Oliguric: kerusakan ginjal dan hipervolimia relatif

􀂙 Diuretic: fungsi ginjal meningkat

􀂙 Sembuh: ketidak seimbangan cairan

2.2.4 Nairovirus (DEMAM BERDARAH CRIMEAN)

Identifikasi.

Penyakit yang disebabkan oleh virus dengan demam yang muncul tiba-tiba, rasa tidak enak badan, kelelahan, iritasi, sakit kepala, sakit hebat di tangan dan pinggang dan ditandai dengan timbulnya anoreksia. Muntah, sakit pada perut bagian bawah dan diare kadang muncul. Bercak merah pada muka dan dada hingga mata merah muncul lebih awal. Enantem dengan pendarahan pada palatum molle, uvula dan faring, ruam kecil kecil menyebar dari dada hingga perut dan sekujur tubuh, biasanya menjadi tanda yang khas muncul pada penyakit ini; kadang ditemukan purpura yang luas. Kadang muncul perdarahan pada gusi, hidung, paru-paru, uterus dan usus, namun kebanyakan terjadi hanya pada kasus yang fatal dan serius, hal ini dikaitkan dengan kerusakan hati yang berat. Hematuria dan albuminuria umum terjadi namun tidak masif. Demam meningkat secara konstan dalam 5 - 12 hari atau dengan gambaran bifasik dan menurun secara lysis. Penyembuhannya lama. Temuan lain berupa lekopenia dengan lebih banyak limfopenia dibanding netropenia. Trombositopenia adalah hal yang umum terjadi. Tingkat fatalitas kasus dilaporkan antara 2% - 50%. Di Rusia diperkirakan terdapat 5 orang yang tertulari untuk tiap kasus demam berdarah. Diagnosa dibuat dengan mengisolasi virus dari darah dengan inokulasi pada kultur sel atau tikus kecil atau dengan PCR. Diagnosis serologik dibuat dengan pemeriksaan ELISA, reverse passive HI, IFA, CF, imuno difusi atau dengan uji netralisasi reduksi plaque. IgM spesifik dapat saja muncul selama fase akut.

Distribusi Penyakit

Ditemukan di daerah stepa bagian barat Crimea, pada Semenanjung Kersch di Kazakhtan dan Uzbekistan, di Rostov dan Astrakhan Rusia, juga di Albania, Bosnia Herzegovina, Bulgaria, Irak, Semenanjung Arab, Pakistan, bagian barat China, daerah tropis Afrika dan Afrika Selatan. Kebanyakan penderita adalah mereka yang bekerja dipeternakan atau tenaga medis. Kejadian musiman di Rusia berlangsung antara Juni hingga September, periode dimana vektornya sangat aktif. Virus atau antibodi pada manusia telah diteliti dan ditemukan di beberapa daerah di bagian timur dan tengah Afrika; kasus demam berdarah telah dilaporkan terjadi di Afrika selatan dan Mauritania (Afrika barat).

Reservoir.

Secara alami, reservoir adalah kelinci, burung dan kutu dari keluarga Hyalomma spp. di Eurasia dan Afrika Selatan. Inang di daerah tropis Afrika tetap tidak diketahui, namun Hyalomma dan kutu Boophilus, insektivora dan hewan pengerat diduga juga berperan sebagai reservoir. Binatang domestik seperti kambing, domba dan sapi berperan sebagai inang berikutnya.

Cara Penularan.

Penularan melalui gigitan Hyalomma marginatum atau H. anatolicum dewasa yang terinfeksi, kutu yang masih muda diduga mendapat infeksi dari binatang inang atau dari kutu induknya melalui telur. Infeksi nosokomial pada tenaga medis, terjadi setelah terpajan dengan darah dan discharge dari pasien. Penularan melalui infeksi nosokomial ini perlu diperhatikan pada KLB yang terjadi belakangan ini : keluarga dari tenaga medis dapat juga tertular sebagai kasus tersier. Penularan juga dapat terjadi saat memotong hewan yang terinfeksi.

Masa Inkubasi

Biasanya 1 hingga 3 hari, dengan jarak antara 1 - 12 hari . Masa Penularan : Sangat menular di lingkungan RS. Infeksi nosokomial umum terjadi setelah terpajan dengan darah dan discharge penderita. Kekebalan setelah terinfeksi kemungkinan dapat bertahan seumur hidup.

Cara- cara pemberantasan

Lihat Lyme Disease, 9A, untuk tindakan pemberantasan dan pencegahan gigitan kutu. Vaksin otak tikus yang tidak aktif digunakan di Eropa timur dan di bekas Uni Soviet. Tidak ada vaksin di AS. Pengawasan Penderita, Kontak & Lingkungan Sekitarnya :

1) Laporan kepada instansi kesehatan setempat : Di daerah endemis tertentu, di kebanyakan negara, bukan merupakan kasus yang wajib dilaporkan, Kelas 3B (lihat tentang pelaporan penyakit menular)

2) Isolasi : lakukan tindakan kewaspadaan universal terhadap cairan tubuh dan darah

3) Disinfeksi serentak : cairan darah sangat infektif; dekontaminasi dengan panas atau dengan disinfektan klorin

4) Karantina : tidak diperlukan

5) Imunisasi : tidak ada, kecuali di Eropa bagian timur

6) Investigasi kontak dan sumber infeksi : cari dan temukan kembali kasus yang hilang / yang tidak dilaporkan dan keberadaan hewan yang tertular serta vektor yang mungkin berperan

7) Perawatan spesifik : infus ribavirin dan plasma imun dengan kadar neutralizing Antibody yang tinggi diketahui sangat bermanfaat.

Tidak ada komentar:

Baca Juga Artikel Yang Lainnya:

·