Google Translate

VITAMIN

VITAMIN ; BENTUK DAN KEGUNAANNYA

2.1. VITAMIN A

2.1.1 Nama Lain, Satuan, dan Bentuknya

Vitamin A disebut juga vitamin antiinfeksi , ophtalamin, retinol, biosterol, dan larut dalam lemak. Vitamin A digunakan untuk seluruh derivat beta-ionone yang secara biologis beraktvitas sebagai retinol. Satuan vitamin A adalah Intenasional Unit (U). Terdapat tiga jenis ester vitamin A yaitu : Vitamin A alcohol, Vitamin A asetat, dan Vitamin A palmitat, yang ketganya mempunyai fungsi biologis yang sama dalam makanan kuda.

2.1.2 Defisiensi Vitamin A pada Kuda.

Defisiensi’ vitamin A menyebabkan anoreksia (sehingga mempengaruhi nafsu makan (pertumbuhan terhambat, buta senja, lakrimasi, keratinisasi kornea, gangguan kulit dan pernafasan, pembesaran kelenjar sublingual, masalah reproduksi, dan cepat lelah.

2.1.3 Kebutuhan Vitamin A pada kuda.

Menurut rekomendasi NRC kebutuhan vitamin A pada kuda bervariasi dari : 650 sampai 1400 IU per pound kg pakan. Variasi ini tergantung pada status fsiologis kuda:

- Kuda dewasa kerja : 650 IU per pound pakan.

- Kuda tumbuh : 800 IU

- Kuda selama gestasi : 1400 IU

- Kuda laktasi “ 100 – 1150 IU.

NRC juga merekomendasikan kebutuhan vitamin berdasarkan bobot kuda, yaitu – Hidup pokok: 11,4 IU per pound bobot kuda.

- Dewasa kawin : 18,2 IU,

- Bunting dan laktasi : 22,7,

Sejalan dengan meningkatnya pertumbuhan, kebutuhan vitamin A untuk hidup pokok menurun. Sedangkan berdasarkan jumlah karoten, kebutuhan vitamin A pada kuda yang direkomendasikan NRC (1978) adalah 1 mg karoten atau ekuvalen dengan 400 IU vitamin A

2.2. VITAMIN D

2.2.1 Nama, Satuan, dan Bentuknya

Nama lain :

- Vitamin antirahitik

- Sunshine vitamin

- Rachitasterol

- Rachitamin

Vitamin D juga digunakan untuk seluruh derivate steroid yang mempunyai aktivitas biologis cholecalsiferol. Sedikitnya terdapat 10 derivat sterol yang menjadi prekursor vitamin D antara lain yang paling penting vitamin D2 dan D3.

- Vitamin D2 merupakan bentuk yang ditemukan pada produk tanaman seperti hay dan ragi. D2 (calsiferol) diperoleh dari ergosterol tanaman yang terkena radiasi matahari.

- Sedangkan vitamin D3 merupakan bentuk yang ditemukan dalam minyak ikan, susu, dan dalam kulit kuda yang terkena sinar matahari. D3 (7 dehidrokolesterol) diperoleh dari ergosterol tanaman yang terkena radiasi matahari.

- Sejauh ini baik D2 maupun D3 mempunyai aktivitas yang sama dalam nutrisi kuda.

1 IU vitamin D aktivitas biologinya setara dengan 0,025μ kristal vitamin D3. Vitamin D3 dimetabolisme di dalam tubuh menjadi 25-hidroksi- D3 (25-OHD3) dan 1,25-dihidroksi- D3 (1,25-(OH)2D3). sehingga lebih aktif dalam aktifitas kalsifikasi dan pembentukan tulang. Kedua bentuk hasil pemecahan ini merupakan senyawa yang siap dipakai sebagai vitamin D pada kuda

2.2.2. Defisiensi Vitamin D pada Ransum Kuda

Hampir seluruh bahan pakan mempunyi aktivitas vitamin D yang sangat rendah. Kuda memperoleh vitamin D dari cahaya matahari (cahaya menjadi sterol dalam kulit kuda), hay kering matahari, atau dari penambahan vitamin pada ransum.

2.2.3. Defisiensi Vitamin D pada Kuda

Defisiensi vitamin D menyebabkan berbagai gangguan seperti halnya kekurangan kalsium atau fosfor atau kedua-duanya. Hal ini disebabkan karena vitamin ini sangat erat dengan pembentukan tulang. Penyakit defisiensi vitamin D termasuk berkurangnya kalsifikasi tulang lunak, deformasi tulang, kad ang-kadang menyebabkan keretakan, dan berkurangnya kalsium dan fosfor dalam serum darah. Defisiensi vitamin D, Ca, atau P dapat menyebabkan deformasi (penyimpangan bentuk) tulang karena bobot hewan yang besar sedang otot tubuh lemah, dan tulang kosong (porous).

2.2.4. Kebutuhan Vitamin D pada Kuda.

Menurut rekomendasi NRC (1978) kebutuhan vitamin D pada kuda 125 IU per pound pakan atau 3 IU per pound bobot tubuh.

2.3. VITAMIN E

2.3.1. Nama, Unit, dan Bentuk

Vitamin E dapat digunakan untuk seluruh derivate tocol dan tocotrienol yang mempunyai aktivitas biologis α-tokoferol. Vitamin E disebut juga vitamin antisterilitas dan factor X. Ungkapan seperti “aktivitas vitamin E” atau “defisiensi vitamin E” sering kali digunakan. α-tokoferol disebut sebagai vitamin E semenjak diketahui mempunyai nilai nutrisi yang lebih. Misalnya jika α-tokoferol mempunyai nilai 100, maka β dan zeta tokoferol nilainya hanya kira-kira 1/3-nya; sedangkan gamma delta, epsilon dan etatokoferolhanya kurang dari 1% dari nilai α-tokoferol. Maka analisis total tokoferol pakan dapat salah faham. Satu unit IU didasarkan 1 mg d- α-tokoferol asetat sama dengan 1,36 mg dl- α- tokoferol asetat. dl-α-tokoferol asetat adalah standar internasional yang didefinisikan sebagai aktivitas1 IU per mg. Kemudian istilah 1 IU dan 1 mg dl- α-tokoferol asetat selalu dapat berubah untuk digunakan.

2.3.2. Defisiensi dalan Ransum Kuda

Dalam situasi tertentu suplementasi vitamin E pada kuda diperlukan. Ada interelasi antara vitamin E dengan selenium. Vitamin E dapat mensubtitusi selenium, demikian pula sebaliknya. Dalam situasi ini sulit memisahkan antara defisiensi Se dengan vitamin E. Banyak bukti bahwa vitamin E dan Se dibutuhkan dalam berbagai keadaan. Keduanya dibutuhkan dalam nutrisi baik selama metabolism maupun sebagai antioksidan, sehingga keduanya sangat penting dalam ransum hewan. Berikut ini beberapa alasan pentingnya suplementasi Se dan vitamin E

dalam ransum :

1. Pemanasan dan pelleting yang rendah vitamin E

2. Ketengikan merusak vitamin E, karena tingginya lemak jenuh, dan bisa dicegah

dengan antioksidan

3. Ternak kurang merumput dipastura. Hijauan pastura dan hay yang masih hijau

sangat baik sebagai sumber vitamin E.

4. Salah perkiraan kandungan vitamin E pada pakan dari anggapan bahwa vit E

adalah tokoferol,padahal hanya alfa tokoferol yang mempunyai aktivtas vitamin

E yang aktif.

5. Terjadinya defisiensi Se sehingga perlu vitamin E untuk mengganti sebagian

kebutuhan Se dan dalam kasus tertentu perlu juga disertai Se.

6. Diketahui hanya 50% Se yang tersedia dalam pakan.

7. Kuda cepat tumbuh

2.4. Vitamin K

2.4.1. Nama, Unit, dan Bentuk

Nama/sebutan lain vitamin K adalah : vitamin antihemoragic, vitamin pembeku darah, factor protrombin, philloquinon, dan 2-metil-1,4-naftoquinon. Vitamin K digunakan untuk 2-metil-1,4-naftoquinon dan turunannya, yang secara aktivitas biologisnya disebut fityl-menoquinon (philloquinon). Istilah ‘aktivitas Vitamin K” dan “defisiensi Vitamin K” lebh sesuai digunakan.

Beberapa senyawa mempunyai struktur yang sama dan semuanya mempunyai aktivitas sebagai vitamin K. Di alam, ada dua bentuk yang dapat diisolasi, yaitu K1, dan K2. Selain itu beberapa senyawa sintetis telah dipreparasi mempunyai aktivitas vitamin K, satu diantaranya adalah 2-metil-1,4-naftoquinon., yang disebut menadion yang lebih aktif dibanding K1. Beberapa senyawa vitamin K sintetis larut dalam air, berbeda sekali dengan K1, dan K2 yang larut dalam lemak.

2.4.2. Defisiensi dalam Ransum Kuda

Defisiensi vitamin K dapat diobservasi melalui hewan lain. Suplementasi vitamin K sekarang diaplikasikan cukup luas. Namun belum diketahui berapa banyak yang ditambahkan untuk ransum kuda. Berdasarkan pengamatan pada babi, penyebab

perlunya suplemen vitamin K pada kuda adalah :

1. Mikotoksin kapang yang mungkin ada dalam ransum, sehingga kebutuhan

vitamin K meningkat,

2. Antimetabolit yang mungkin ada dalam ransum,

3. Makanan semakin terbatas, kuda sulit memperoleh hijauan pastura berkualitas

(sebagai sumber vitamin K)

4. Ketersediaan hay hijauan berkualitas (sebagai sumber vitamin K yang baik)

berkurang, sehingga kandungan vitamin K dalam ransum sedkit,

5. Secara normal kuda dapat mensintesis vitamin K dalam usus. Karena berbagai

factor dalam ransum atau pengaruh obat, maka dapat menghambat sintesis

vitamin K,

6. Sekarang pertumbuhan kuda semakit pesat dan semakin diharapkan pada awal

umur muda, sehingga meningkatkan kebutuhan vitamin K

7. Perbedaan kebutuhan vitamin K menurut bangsa dan strain kuda,

8. Beberapa jenis kuda sedikit makan, maka kebutuhan vitamin K per pound pakan

per hari meningkat.

2.4.3. Pengaruh Defisiensi pada Kuda

Vitamin K dibutuhkan untuk pembentukan protrombin (sebagai penggumpal darah) yang terjadi dalam liver. Penggumpalan darah sangat diperlukan jika kuda terluka atau keperluan operasi.

2.4.4. Kebutuhan Vitamin K (lihat Tabel 1 dan 2)

Pemilik kuda di USA selalu menambahkan suplemen vitamin K untuk lebih meyakinkan. Jika pada anak ayam kebutuhannya 0,24 mg vitamin K per pon pakan.

2.5. VITAMIN C

2.5.1. Nama, Unit, dan Bentuk

Vitamin C disebut juga asam askorbat, asam “Cevitamic”, antiskorbut, skorbutamin, dan asam heksuronat. Sebutan vitamin C digunakan untuk seluruh senyawa yang mempunyai aktivitas biologi asam askorbat. Satu unit vitamin C adalah aktivitas yang terkandung dalam 0,05 mg vitamin. Jadi 1 mg vitamin C setara dengan 20 IU vitamin C. Aktivitas vitamin C biasanya diekspresikan dalam miligram vitamin C.

2.5.2. Defisiensi dalam Ransum Kuda

Invormasi penelitian mengenai kebutuhan suplemen vitamin C sangat sedikit. Para ilmuwan menganggap bahwa kuda dapat mensintesis seluruh vitamin C yang dibutuhkan. Pertanyaan yang belum terjawab adalah pada kondisi khusus apa vitamin C dibutuhkan diatas kemampuan sintesis. Pada babi misalnya, menambahkan vitamin C pada kondis stress. Hal yang sama dapat diterapkan pada kuda.

2.5.3. Pengaruh Defisiensi

Defisiensi vitamin C dapat menyebabkan sariawan usus, yaitu pendarahan, pembengkakan, dan luka bernanah, rapuh tulang, gigi rontok, dan kerapuhan kapiler sehingga keluar darah dari tubuh. Asam askorbat disimpat hanya dalam jumlah terbatas, jadi harus disuplai secara regular. Level vitamin C dalam plasma darah menjadi indicator yang tepat untuk mengetahui intake vitamin tersebut. Vitamin C stabil jika ditambahkan dalam pakan yang bukan berbentuk pellet, sebaliknya tidak stabil jika pakan berbentuk pellet. Pengaruh panas dan kelembaban

penyebab rusaknya sejumlah besar vitamin C. Suhu lingkungan yang tinggi meningkatkan kebutuhan vitamin C pada induk petelur sehingga perlu suplemen untuk kualitas telur selama cuaca panas. Laporanlain menyebutkan bahwa defisien vitamin A dalam ransum menyebabkan rendahnya vitamin C dalam darah. Maka dari itu harus diyakinkan bahwa vitamin A cukup

dalam ransum.

2.5.4. Kebutuhan Vitamin C

Informasi penelitian mengenai kebutuhan vitamin C sedikit. Para peternak biasa memberikan vitamin C pada induk kuda sebanyak 1000 mg (1 g). kondisi dimana vitamin C menguntungkan untuk diberikan pada ternak, yaitu :

1. Saat cuaca panas

2. Kondisi stress

3. Selama percepatan pertumbuhan atau memperbaiki performan

4. Jika ada factor penghambat sintesis vitamin C.

Terdapat hubungan antara sintesis vitamin C dan energi, Vitamn E dan selenium. Berdasarkan pengamatan dengan spesies lain, tidak semua hewan merespon suplementasi vitamin C.

2.6. THIAMIN

2.6.1. Nama Lain

Vitamin B1, oryzamin, vitamin antibakteri, vitamin antineuritik, torulin polinuramin, dan aneurin adalah nama lain dari thiamin. Penggunaan nama aktivitas thiamin dan “defisiensi vitamin”, lebih sering digunakan.

2.6.2. Defisiensi dalam Ransum Kuda

Kuda yang diberi makan hay kualitas buruk akan defisien tiamin. Kuda yang keracunan “yellow star thistle (Centaurea solstitalia) penyebab paralysis tenggorokan (glossopharyngeal) dapat dibantu dengan pemberian 1 gram tiamin per hari selama 5-7 hari. Suplemen tiamin menguntungkan jika defisiensi vitamin tersebut dalam ransum.

2.6.3. Pengaruh Defisiensi Thiamin

Hasil penelitian menunjukkan , defisiensi thiamin menyebabkan :

1. Anoerexia (kuarang oksigen dalam darah) sehingga kehilangan nafsu makan

2. Kehilangan berat badan,

3. In-kordinasi (khususnya kaki atas/paha)

4. darah rendah tiamin,

5. asam piruvat darah meningkat,

6. dan perbesaran dan hipertropi jantung.

Hasil studi terbaru dengan menggunakan amprolium (antimetabolit tiamin) penyebab defisiensi tiamin, akan menyebabkan bradycardia, dan menurunnya denyut jantung, ataxia, fasciculasi otot, hypothermia periodik pada bagian peripheral (kuku kuda, telinga, mulut). Beberapa ekor kuda yang diteliti seperti buta, diarhe, dan kehilangan berat badan.

2.6.4. Kebutuhan

NRC (1978) mempublikaskan kebutuhan tiamin untuk kuda sebesar 1,36 mg tiamin per pon pakan. Tingkat pemberian ini memperbaiki nafsu makan dan konsumsi, pertambahan berat badan, dan tingkat normal kandungan tiamin dalam otot rangka kuda yang sedang tumbuh. Tiamin dapat disintesis dan sekitar 25% tiamin bebas dalam secum diabsorbsi oleh kuda. Kebutuhan ekstrak tiamin pada kuda belum diketahui. Tabel 1 dan 2 (BAB I) memperlihatkan tingkat tiamin untuk ransum kuda. Pada situasi tertentu seperti kerja berat (selama latihan), balapan, atau perbaikan performan, suplementasi tiamin menguntungkan.

2.6.5. Informasi Umum

Keterbatasan cadangan tiamin dalam tubuh menyebabkan perlunya supply tiamin. Fungsi tiamin sebagai penyusun system enzim dan esensial untuk menyokong penggunaan karbohidrat sebagai sumber energi untuk tubuh. Perombakan karbohidrat meningkat selama balapan/pacu atau performan, sehingga adalah penting mencukupi ketersediaan tiamin. Toksisitas tiamin belum ada laporan. Kelebihan tiamin segera disekresikan melalui urin, namun demikian kelebihn tiamin dalam ransum perlu dhindari.

2.7. RIBOFLAVIN

2.7.1. Nama Lain yang Digunakan

Nama lain dari Riboflavin adalah Vitamin G, Vitamin B2, Lactoflavin, ovoflavin, dan uroflavin. Selanjutnya sebutan “Aktivitas Riboflavin” dan defisiensi Riboflavin lebih tepat digunakan.

2.7.2. Defisiensi dalam Ransum Kuda

Belum diketahui suplementasi riboflavin dalam ransum kuda menguntungkan. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa periodic (buta bulan) diobati dengan 40 mg riboflavin per hari disertai dengan hijkauan pastura atau hay yang banyak mengandung riboflavin. Beberapa peneliti memperkirkan, walaupun factor lain mungkin menyebabkan penyakit “buta bulan” tersebut, beberapa diantaranya mungkin riboflavin memberikan respon imunologis terhadap kondisi penyakit lainnya.

2.7.3. Pengaruh Defisiensi Riboflavin

Defisiensi riboflavin menyebabkan penurunan tngkat pertumbuhan dan penggunaan pakan. Rboflavin esensial sebagai penyusun system enzim dalam tubuh. Penting dalam meningkatkan penggunaan energi pakan dan nutrient dalam ransum. Belum terdefinisikan berapa banyak ribovlavin dapat memperbaiki ophtalmia. “ophtalmia Periodik” dapat menyebabkan kerusakan mata, katarak, dan kebutaan.

2.7.4. Kebutuhan

NRC (1978) mempublikaskan kebutuhan riboflavin untuk kuda sebesar 1mg per pon pakan adalah cukup bagi pertumbuhan dan kebutuhan pokok kuda dewasa. Tabel 1 dan 2 (BAB I) memperlihatkan tingkat riboflavin untuk kuda pacu dan performan.

2.7.5. Informasi Umum

Belum dilaporkan adanya toksistas riboflavin pada kuda. Jumlah riboflavin yng disekreskan berkorelasi dengan masukan vitamin. Ekskresi yang cepat jika kelebihan riboflavin mengurangi toksik. Jadi sebaiknya tidak memberikan riboflavin berlebihan dalam pakan.

2.8. VITAMIN B12

2.8.1. Nama Lain yang Digunakan

Nama lain dari Vitamin B12 adalah animal protein factor, zooferin, erytrotin, faktor X, dan physin. Selanjutnya sebutan Vitamin B12 yang mempunyai aktivitas biologis adalah Cyanocobalamin dan nitrocobalamin. Jadi “Aktivitas Vi tamin B12” dan”defisiensi Vitamin B12” lebih tepat digunakan.

2.8.2. Pengaruh Defisiensi

Fungsi Vitamin B12 berhubungan dengan penggunaan karbohidrat, lemak, dan protein, oleh karena itu sangat penting dalam penggunaan pakan. Pada hewan lain selain kuda, defisiensi Vitamin B12 menyebabkan rendahnya tingkat pertumbuhan dan reproduksi, anemia, inkordinasi bagian posterior, langkah tidak tetap, rendahnya nafsu makan, hiperiritbilitas, dan bulu kasar. Defisiensi Vitamin B12 tidak ditemukan pada kuda. Beberapa penyakit defisiensi ditemukan pada hewan lain, bukan pada kuda.

2.8.3. Kebutuhan

Belum ada nformasi penelitian mengenai kebutuhan Vitamin B12 pada kuda. Tabel 1 dan 2 (BAB I) memperlihatkan tingkat Vitamin B12 untuk kuda pacu dan performan.

2.8.4. Informasi Umum

Penelitian tentang defisiensi Vitamin B12 belum dilaporkan, namun kelemahan, anemia, posterior inkordnasi, penyakit parasit berat pada kuda dapat direspon dengan injeksi B12. Jumlah riboflavin yng disekreskan berkorelasi dengan masukan vitamin. Ekskresi yang cepat jika kelebihan riboflavin mengurangi toksik. Jadi sebaiknya tidak memberikan riboflavin berlebihan dalam pakan.

2.9. NIASIN

2.9.1. Nama Lain yang Digunakan

Nama lain dari niasin adalah factor pencegah pellagra, asam nikotnat PP factor pelagramin, vitamin PP, asam niamid Istilah yang dikenal “Aktivitas niasin” dan”defisiensi niasin” lebih tepat digunakan.

2.9.2. Pengaruh Defisiensi

Fungsi niasin sebaga komponeen enzim dan untuk kehidupan sel.. Enzim tersebut penting untuk mencerna karbohidrat, lemak, dan protein, oleh karena itu sangat penting dalam penggunaan pakan. Defisiensi tidak ditemukan pad kuda. Pada hewan babi, defsiiensi niasin menyebabkan rendahnya tingkat pertumbuhan, anemia, diare, nekrotis/luka kolon dan sekum, dermatitis kurang nafsu makan. inkordinas bagian posterior, langkah tidak tetap, rendahnya nafsu makan, hiperiritbilitas, dan bulu kasar.

2.9.3. Kebutuhan

Belum ada nformasi penelitian mengenai kebutuhan niasin pada kuda, karena kuda dapat mensintesisnya. Tabel 1 dan 2 (BAB I) memperlihatkan tingkat Vitamin B12 untuk kuda pacu dan

performan.

2.9.4. Informasi Umum

Niasin dipengaruhi oleh masukan triptofan dalam ransum. Triptofan dipengaruhi oleh total protein dalam ransum dan jumlah triptofan dalam protein pakan. Jadi protein rendah triptofan rendah. Kemungkinan defisiensi niasin atau triptofan lebih besar, jika mengkonsumsi bijian serealia dan by-produknya. Jenis pakan ini jarang disediakan untuk kuda tetapi untuk babi dan unggas. Namum peternak kuda memberikan suplemen niasin untuk menjamin kebutuhannya. Kelebihan niasin tidak berakibat toksik.

2.10. ASAM PANTOTENAT

2.10.1. Nama Lain dan Bentuk yang Digunakan

Nama lain dari asam pantotenat adalah yeast filtrate factor, faktor antidermatits. Ungkapan “Aktivitas Vitamin B12” dan ”defisiensi Vitamin B12” lebih tepat digunakan. Pantotenat tersedia dalam garam kalsium (kalsium pantotenat) dan penyebab stabilitas kristal di alam. Kalsium pantotenat kadang-kadang dpasaran ada dalam bentuk campuran (bentuk D dan L) DL- kalsium pantotenat. Hanya bentuk D yang aktif. 1000 mg D-kalsium pantotenat = 920 mg asam pantotenat; 1000 mg DL kalsium pantotenat = 460 mg asam pantotenat.

2.10.2. Pengaruh Defisiensi

Defisensi asam pantotenat tidak terjadi pada kuda. Defisiensi asam pantotenat pada hewan lain menyebabkan rendahnya tingkat pertumbuhan dan reproduksi, lesi kulit dan bulu, gangguan pencernaan dan system saraf. Asam pantotenat merupakan koenzim-A suatu enzim untuk pemanfaatan pakan, berperan mencerna karbohidrat, lemak, protein, dan fungsi tubuh lainnya, sehingga gangguan defisiensi sangat bervariasi. Oleh karena itu asam pantotenat harus

dipastikan ada dalam ransum.

2.10.3. Kebutuhan

NRC (1978) mempublikasikan kebutuhan asam pantotenat pada kuda sebesar 6,8 mg asam pantotenat. Per pon pakan untuk pertumbuhan dan hidup pokok kuda dewasa. Tabel 1 dan 2 (BAB I) memperlihatkan tingkat asam pantotenat untuk kuda pacu dan performan.

2.10.4. Informasi Umum

Ekskresi asam pantotenat melalui urine dipengaruhi oleh tingkat konsumsi. Kelebihan tidak menyebabkan toksik, namun sebaiknya tidak memberikan riboflavin berlebihan dalam pakan.

2.11. VITAMIN B6

2.11.2. Nama Lain dan Bentuk yang Digunakan

Nama lain dari Vitamin B6 adalah “yeast evaluate factor”, adermia, faktor anti acrodenia pada tikus. Selanjutnya sebutan Vitamin B6 yang mempunyai aktivitas biologis “Aktivitas Vitamin B6” dan ”defisiensi Vitamin B6” lebih tepat digunakan. Vitamin B6 termasuk tiga senyawa : piridoksin, pyridoksal, dan pyrdoksamin, juga ada bentuk lain pyridoksin. Aktivitasnya ketiga senyawa tersebut sama dalam tubuh ternak. Namun sangat berbeda aktivitasnya pada beberapa mikroorganisme. Pada ragi, organ glandular, dan daging sebagian besa vitamin B6 ada dalam bentuk pyridoksal, dan pyrdoksamin. Jadi mempelajari vitamin harus mengingat bentuk keberadaan vitamin dalam pakan kekefektifannya responnya terhadap ternak dan mikroorganisme. Namun pada kuda belum ada informasi tentang bentuk keefektifannya.

2.11.3. Pengaruh Defisiensi

Fungsi Vitamin B6 berhubungan dengan system enzim dan berperan dalam penggunaan karbohidrat, lemak, dan protein, oleh karena itu sangat penting dalam mencerna pakan. Tanpa adanya Vitamin B6 asam amino trptofan tidak dapat digunakan oleh ternak. Pada hewan lain selain kuda, defisiensi Vitamin B12 menyebabkan rendahnya tingkat pertumbuhan dan kegagalan reproduksi, anemia, dermatitis, degenerasi sel saraf dan gangguan penglihatan.

2.11.4. Kebutuhan

Belum ada nformasi penelitian mengenai kebutuhan Vitamin B6 pada kuda. Tabel 1 dan 2 (BAB I) memperlihatkan tingkat Vitamin B6 untuk kuda pacu dan performan.

2.11.5. Informasi Umum

Sintesis vitamin B6 pada kuda ditemukan di sekum dan usus besar. Jjika kelebihan

tidak menyebabkan toksik. Namun sebaiknya tidak memberikan riboflavin

berlebihan dalam pakan.

III

KESMPULAN

Vitamin yang dibutuhkan oleh kuda terdiri atas 11 jenis vitamin B kompleks, 4 jenis vitamin yang larut dalam lemak, dan vitamin C. Sebagian besar vitamin dapat diperoleh dari hijauan, namun defisiensi dapat terjadi jika kuda banyak mengkonsumsi hijauan berkualitas rendah atau pakan yang tidak ditambah suplemen vitamin. Sebagan besar vitamin yang larut dalam air, yaitu vitamin C dan vitamin B komplek dapat disintesis oleh mikroorganisme dalam usus kuda, namun tidak untuk disimpan. Jumlah yang disintesis tergantung dari jenis vitamin dan jenis ransum yang

dimakan. Suplementasi vitamin harus diberikan secara hati-hati karena kelebihan vitamin tertentu dapat berpengaruh terhadap vitamin yang lain. Walaupun dapat disintesis oleh kuda, vitamin C sangat dibutuhkan terutama saat cuaca panas, kondisi stress selama percepatan pertumbuhan atau memperbaiki performan, dan jika ada factor penghambat sintesis vitamin C. Pada situasi tertentu, seperti kerja berat (selama latihan), balapan, atau perbaikan performan, suplementasi vitamin B kompleks menguntungkan. Sejauh ini toksisitas vitamin belum ada laporan karena kelebihannya segera dieksresikan dan keluar bersama feses.

DAFTAR PUSTAKA

Cunha, T.J. 1980. Horse Feeding and Nutrition. Academic Press New York London,

Toronto, Sydney, San Fransisco.

NRC. 1978. Nutrient Requirements of Horse. Fourth Revised Edition. National

Academy of Sciences, Institute of Medicine, USA.

Parrakasi. 1983. Ilmu Nutrisi dan Makanan Ternak Monogastrik. Angkasa, Bandung.

Pilliang, W.G. 1995. Nutrisi Vitamin. Volume II. Penerbit IPB, Bogor.

Pilliner, S. 1992. Horse Nutrtion and Feeding. Blackwell Science, Australia.

Tidak ada komentar:

Baca Juga Artikel Yang Lainnya:

·