Google Translate

Pinjal SIPHONAPTERA




1.1              Latar Belakang

Seperti yang kita ketahui parasit merupakan animalia yang sangat merugikan bagi hewan, dimana dia akan menginfeksi hospesnya tersebut. Salah satu jenis parasit yaitu pinjal (Siphonaptera) yang termasuk ke dalam kelas insekta dan phylum arthropoda. Siphonaptera adalah serangga lateral, bersayap, dan holometabola. Terdapat hampir 2.575 spesies. Semua spesies parasit dalam tahap dewasa memiliki mulut yang dirancang untuk menusuk dan mengisap, sisir dirancang hampir di seluruh tubuh mereka dan kaki, serta kaki dirancang untuk melompat. Beberapa spesies vektor penyakit, dan penelitian saat ini memberikan wawasan penting dalam evolusi. Ordo Siphonoptera mempunyai ciri-ciri tidak bersayap, termasuk endopterygota, bermata tunggal, metamorfosisnya sempurna, dan mempunyai alat mulut menusuk dan menghisap. Pinjal masuk ke dalam ordo Siphonaptera yang pada mulanya dikenal sebagai ordo Aphniptera. Ordo Siphonaptera terdiri atas tiga super famili yaitu Pulicoidea, Copysyllodea dan Ceratophylloidea.
Pinjal merupakan insekta yang tidak memiliki sayap dengan tubuh berbentuk pipih bilateral dengan panjang 1,5-4,0 mm, yang jantan biasanya lebih kecil dari yang betina. Kedua jenis kelamin yang dewasa menghisap darah. Pinjal ini juga termasuk serangga Holometabolaus atau metamorphosis sempurna karena daur hidupnya melalui 4 stadium yaitu : telur-larva-pupa-dewasa. Beberapa contohnya adalah Ctenocephalus cannis (kutu anjing), Ctenocephalus felis (kutu kucing), Pulex irritan (pinjal manusia), Xenopsylla cheopsis (kutu tikus) dan Echidnophaga.
Dalam dunia kedokteran hewan parasit jenis ini sangat mudah menyerang hewan. Oleh sebab itu, penulis ingin menjelaskan berbagai morphologi, siklus hidup dan habitat dari Siphonaptera ini melalui paper yang berjudul “SIPHONAPTERA” sebagai bahan untuk melengkapi pembelajaran dalam kuliah parasitologi Kedokteran Hewan.


1.2              Rumusan Masalah

1.      Bagaimana ciri-ciri umum dari Siphonaptera?
2.      Bagaimanakah klasifikasi genus dari Siphonaptera?
3.      Bagaimanakah morphologi, siklus hidup dan habitat dari masing-masing genus?

1.3              Tujuan

1.      Untuk menjelaskan ciri-ciri umum dari ordo Siphonaptera
2.      Untuk mengetahui beberapa  genus dari ordo Siphonaptera
3.      Untuk menjelaskan morphologi, siklus hidup dan habitat dari masing-masing genus

























BAB II

PEMBAHASAN

Siphonaptera adalah serangga lateral, bersayap, dan holometabola. Terdapat hampir 2.575 spesies. Semua spesies parasit dalam tahap dewasa memiliki mulut yang dirancang untuk menusuk dan mengisap, sisir dirancang hampir di seluruh tubuh mereka dan kaki, serta kaki dirancang untuk melompat. Beberapa spesies vektor penyakit, dan penelitian saat ini memberikan wawasan penting dalam evolusi. Ordo Siphonoptera mempunyai ciri-ciri tidak bersayap, termasuk endopterygota, bermata tunggal, metamorfosisnya sempurna, dan mempunyai alat mulut menusuk dan menghisap. Contohnya adalah Ctenocephalus cannis (kutu anjing), Ctenocephalus felis (kutu kucing), Pulex irritan (pinjal manusia), Xenopsylla cheopsis (kutu tikus), Echidnophaga.
2.1  Klasifikasi Pinjal
Pinjal masuk ke dalam ordo Siphonaptera yang pada mulanya dikenal sebagai ordo Aphniptera. Ordo Siphonaptera terdiri atas tiga super famili yaitu Pulicoidea, Copysyllodea dan Ceratophylloidea. Ketiga super famili ini terbagi menjadi Sembilan famili yaitu Pulicidae, Rophalopsyllidae, Hystrichopsyllidae, Pyglopsyllidae, Stephanocircidae, Macropsyllidae, Ischnopsyllidae dan Ceratophillidae. Dari semua famili dalam ordo Siphonaptera paling penting dalam bidang kesehatan hewan adalah famili Pulicidae (Susanti,2001).
2.2  Morfologi Pinjal
Pinjal betina tidak memiliki rambut pendek di belakang lekuk antenna. Kaki belakang dari sub spesies ini terdiri dari enam ruas dorsal dan manubriumnya tidak melebar di apical, sedangkan pinjal yang masuk ke dalam sub spesies C. felis formatipica memiliki dahi yang pendek dan melebar serta membulat di anterior. Pinjal pada sub spesies ini memiliki jajaran rambut satu sampai delapan yang pendek di belakang lekuk anten. Kaki belakang dari pinjal ini terdiri atas tujuh ruas dorsal dan manubrium melebar di apical.
Pinjal merupakan insekta yang tidak memiliki sayap dengan tubuh berbentuk pipih bilateral dengan panjang 1,5-4,0 mm, yang jantan biasanya lebih kecil dari yang betina. Kedua jenis kelamin yang dewasa menghisap darah. Pinjal mempunyai kritin yang tebal. Tiga segmen thoraks dikenal sebagai pronotum, mesonotum dan metanotum (metathoraks). Segmen yang terakhir tersebut berkembang, baik untuk menunjang kaki belakang yang mendorong pinjal tersebut saat meloncat. Di belakang pronotum pada beberapa jenis terdapat sebaris duri yang kuat berbentuk sisir, yaitu ktenedium pronotal. Sedangkan tepat diatas alat mulut pada beberapa jenis terdapat sebaris duri kuat berbentuk sisir lainnya, yaitu ktenedium genal. Duri-duri tersebut sangat berguna untuk membedakan jenis pinjal.
Pinjal betina mempunyai sebuah spermateka seperti kantung dekat ujung posterior abdomen sebagai tempat untuk menyimpan sperma, dan yang jantan mempunyai alat seperti per melengkung , yaitu aedagus atau penis berkitin di lokasi yang sama. Kedua jenis kelamin memiliki struktur seperti jarum kasur yang terletak di sebelah dorsal , yaitu pigidium pada tergit yang kesembilan. Fungsinya tidak diketahui, tetapi barangkali sebagai alat sensorik.
Mulut pinjal bertipe penghisap dengan tiga silet penusuk (epifaring dan stilet maksila). Pinjal memiliki antenna yang pendek, terdiri atas tiga ruas yang tersembunyi ke dalam lekuk kepala (Susanti, 2001)


2.3       Daur Hidup Pinjal
Pinjal termasuk serangga Holometabolaus atau metamorphosis sempurna karena daur hidupnya melalui 4 stadium yaitu : telur-larva-pupa-dewasa. Pinjal betina bertelur diantara rambut inang. Jumlah telur yang dikeluarkan pinjal betina berkisar antara 3-18 butir. Pinjal betina dapat bertelur 2-6 kali sebanyak 400-500 butir selama hidupnya (Soviana dkk, 2003).















Telur berukuran panjang 0,5 mm, oval dan berwarna keputih-putihan. Perkembangan telur bervariasi tergantung suhu dan kelembaban. Telur menetas menjagi larva dalam waktu 2 hari atau lebih. Kerabang telur akan dipecahkan oleh semacam duri (spina) yang terdapat pada kepala larva instar pertama.
Larva yang muncul bentuknya memanjang, langsing seperti ulat, terdiri atas 3 ruas toraks dan 10 ruas abdomen yang masing-masing dilengkapi dengan beberapa bulu-bulu yang panjang. Ruas abdomen terakhir mempunyai dua tonjolan kait yang disebut anal struts, berfungsi untuk memegang pada substrata tau untuk lokomosi. Larva berwarna kuning krem dan sangat aktif, dan menghindari cahaya. Larva mempunyai mulut untuk menggigit dan mengunyah makanan yang bisan berupa darah kering, feses dan bahan organic lain yang jumlahnya cukup sedikit. Larva dapat ditemukan di celah dan retahkan lantai, dibawah karpet dan tempat-tempat serupa lainnya. Larva ini mengalami tiga kali pergantian kulit sebelum menjadi pupa. Periode larva berlangsung selama 7-10 hari atau lebih tergantung suhu dan kelembaban.  Larva dewasa panjangnya sekitar 6 mm. Larva ini akan menggulung hingga berukuran sekitar 4x2 mm dan berubah menjadi pupa. Stadium pupa berlangsung dalam waktu 10-17 hari pada suhu yang sesuai, tetapi bisa berbulan-bulan pada suhu yang kurang optimal, dan pada suhu yang rendah bisa menyebabkan pinjal tetap terbungkus di dalam kokon. Stadium pupa mempunyai tahapan yang tidak aktif atau makan, dan berada dalam kokon yang tertutupi debris dan debu sekeliling. Stadium ini sensitive terhadap adanya perubahan konsentrasi CO2 di lingkungan sekitarnya juga terhadap getaran. Adanya perubahan yang signifikan terhadap kedua factor ini, menyebabkan keluarnya pinjal dewasa dari kepompong. Perilaku pinjal secara umum merupakan parasit temporal, berada dalam tubuh saat membutuhkan makanan dan tidak permanen. Jangka hidup pinjal bervariasi pada spesies pinjal, tergantung dari makan atau tidaknya pinjal dan tergantung pada derajat kelembaban lingkungan sekitarnya. Pinjal tidak makan dan tidak dapat hidup lama di lingkungan kering tetapi di lingkungan lembab, bila terdapat reruntuhan yang bisa menjadi tempat persembunyian maka pinjal bisa hidup selama 1-4 bulan. Pinjal tidak spesifik dalam memilih inangnya dan dapat makan pada inang lain. Pada saat tidak menemukan kehadiran inang yang sesungguhnya dan pinjal mau makan inang lain serta dapat bertahan hidup dalam periode lama (Soviana dkk, 2003).

2.4         Genus dari ordo Siphonaptera
Pinjal (Siphonaptera) yang berpredileksi pada hewan terdiri dari beberapa genus, antara lain Ctenocephalidae, Xenosylla dan Echinophaga.

2.4.1          GENUS CTENOCEPHALIDAE
Klasifikasi, Morfologi, Siklus Hidup, Predileksi, dari Ctenocephalides felis
2.4.1.1    Spesies Ctenocephalus felis
Klasifikasi

Klasifikasi Ctenocephalus felis adalah sebagai berikut :
Golongan : Animalia
Phylum : Arthropoda
Kelas : Insekta
Ordo : Siphonaptera
Family : Pulicidae
Genus : Ctenocephalidae
Spesies : Ctenocephalides felis

Morfologi
Kutu jenis ini memiliki ciri-ciri tidak bersayap, memiliki tungkai panjang, dan koksa-koksa sangat besar, Tubuh gepeng di sebelah lateral dilengkapi banyak duri yang mengarah ke belakang dan rambut keras, Sungut pendek dan terletak dalam lekuk-lekuk di dalam kepala, Bagian mulut tipe penghisap dengan 3 stilet penusuk, Metamorfosis sempurna (telur-larva-pupa-imago), Telur tidak berperekat, abdomen terdiri dari 10 ruas, Larva tidak bertungkai kecil, dan keputihan, Memiliki 2 ktinidia baik genal maupun prenatal. Perbedaan antara jantan dan betina dapat dilihat dari struktur tubuhnya, yaitu jika jantan pada ujung posterior bentuknya seperti tombak yang mengarah ke atas dan antenna lebih panjang, sedangkan tubuh betina berakhir bulat dan antenna nya lebih pendek dari jantan
Kutu kucing ini berwarna coklat kemerahan sampai hitam, dengan betina yang warna nya sedikit berbeda. Selain dari sedikit perbedaan dalam ukuran dan warna, fitur utama lainnya membedakan antara jantan dan betina adalah adanya kompleks, alat kelamin berbentuk bekicot pada laki-laki. Ctenocephalides felis dibedakan dari kutu lain dengan ctenidia karakteristik, atau sisir, tetapi memiliki ctenidium pronotal dan ctenidium genal dengan lebih dari 5 gigi. Morfologi kutu kucing adalah mirip dengan kutu anjing, canis Ctenocephalides, tetapi kutu kucing memiliki karakteristik dahi miring. Tibia belakang juga berbeda dari spesies loak lainnya dalam hal ini tidak memiliki gigi apikal luar. Semua anggota ordo Siphonaptera memiliki otot yang kuat berisi bresilin, protein sangat elastis, di kaki mereka, yang memungkinkan kutu melompat setinggi 33 cm.Larva kutu mirip belatung kecil dengan bulu pendek dan rahang untuk mengunyah. Kepompong hidup terbungkus dalam kepompong sutra-puing bertaburan.

            Siklus Hidup
Telur akan menetas 2-10 hari menjadi larva yang makan darah kering (yang dikeluarkan pinjal dewasa), feses, bahan organik lainnya. Larva juga membuat pupa dengan menyilih 2 kali. Stadium larva berlangsung 1-24 minggu. Pupa dapat hidup selama 1 minggu sampai 1 tahun tergantung faktor lingkungan.Pinjal ini dapat sebagai hospes intermedier dari Dypillidium caninum, dan menyebabkan gatal dan iritasi pada tubuh hospes (kucing).


Habitat
Kutu kucing hidup di sarang dan tempat beristirahat dari host mereka ketika mereka tidak makan, dan tuan rumah mereka ketika mereka makan. Mereka hidup di hampir semua jenis habitat, selama itu hangat dan lembab cukup untuk mempromosikan pembangunan. (Roberts dan Janovy, 2000).Hewan ini ditemukan di daerah yang beriklim tropis, terestrial biomes, seperti padang pasir atau gundukan, savana atau padang rumput, kaparal, hutan hujan, hutan belukar, perkotaan, pinggiran kota, serta pertanian

2.4.1.2 Spesies Ctenocephalides canis
Klasifikasi, Morfologi, Siklus Hidup, Predileksi, dari Ctenocephalides canis

Klasifikasi
Golongan : Animalia
Filum : Arthropoda
Kelas : Insekta
Ordo : Siphonaptera
Family : Pulicidae
Genus : Ctenocephalides
Spesies : Ctenocephalides canis

Morfologi
Tidak bersayap, memiliki tungkai panjang, dan koksa-koksa sangat besar, Tubuh gepeng di sebelah lateral dilengkapi banyak duri yang mengarah ke belakang dan rambut keras, Sungut pendek dan terletak dalam lekuk-lekuk di dalam kepala, Bagian mulut tipe penghisap dengan 3 stilet penusuk, Metamorfosis sempurna (telur-larva-pupa-imago), Telur tidak berperekat, abdomen terdiri dari 10 ruas, Larva tidak bertungkai kecil, dan keputihan,. Perbedaan antara jantan dan betina dapat dilihat dari struktur tubuhnya, yaitu jika jantan pada ujung posterior bentuknya seperti tombak yang mengarah ke atas dan antenna lebih panjang, sedangkan tubuh betina berakhir bulat dan antenna nya lebih pendek dari jantan. Kutu dewasa berwarna hitam kecoklatan, tapi tampak hitam kemerahan setelah makan darah. Kutu dewasa panjangnya 3-4mm. Memiliki baik ctenidia genal dan pronatal, memiliki mata, pada koksa kaki ke-2 (mesopleuron) ditemukan batang pleural (batang meral).
Siklus Hidup
Ada empat tahap utama dari siklus hidup kutu: telur, larva, pupa dan dewasa. Dibutuhkan sekitar 30 sampai 40 hari untuk kutu anjing dalam mengerami telur menjadi telur yang sempurna,meskipun ada beberapa kasus yang menunjukkan siklus ini berlangsung selama satu tahun.Kutu betina mulai bertelur dalam waktu 2 hari makan darah pertamanya. Telur yang putih dan kecil (0.5mm) tetapi yang terlihat dengan mata telanjang. Telur diletakkan pada rambut, bulu atau dalam habitat hospesnya, mereka kemudian jatuh ke tempat-tempat seperti tempat tidur, karpet atau perabot. Beberapa kutu meletakkan 3-18 telur sekaligus di dalam tubuh anjing tersebut,hal ini berpotensi memperbanyak telur hingga 500 telur selama beberapa bulan. Telur menetas dalam 1-12 hari setelah disimpan kemudian memproduksi larva seperti cacing yang tidak memiliki kaki dan tidak ada mata.
Larva berwarna putih dan 1,5-5mm panjang dengan pelindung dari bulu tipis. Mereka jarang tinggal di tubuh inang mereka, kemudian mereka segera mencari daerah tertutup seperti tempat tidur hewan peliharaan , serat karpet dan retakan pada lantai di mana mereka mencari makanan sementara menghindari cahaya. Larva memakan berbagai bahan organik termasuk kulit-kulit yang terjatuh, kotoran hewan dan kotoran dewasa (terdiri dari darah ). Larva memungkinkan untuk mengganti kulit mereka untuk tumbuh dan berubah menjadi kepompong sutra selama 5-15 hari. Sisa larva sebagai pre-pupa selama 3 hari sebelum molting lagi untuk membentuk pupa.
Pupa mengembangkan dalam kokon dari lima hari sampai lima minggu. Dalam kondisi normal, bentuk dewasa siap untuk muncul setelah kira-kira 2 minggu tetapi pada temperatur yang lebih tinggi perubahan akan lebih cepat. Mereka kadang-kadang tetap tinggal di kokon sampai getaran atau kebisingan dirasakan (yang mengindikasikan keberadaan manusia atau binatang) yang berarti - karena tidak ada gerakan bentuk dewasa dapat tinggal di kokon sampai dengan 6 bulan.

Kutu dewasa, tidak bersayap, ukuran 2-8mm panjang dan lateral dikompresi. Mereka tercakup dalam bulu dan sisir yang membantu mereka untuk menempel pada host dan memiliki antena yang dapat mendeteksi dihembuskannya karbon dioksida dari hewan. Antena mereka juga sensitif terhadap panas, getaran, bayangan dan perubahan arus udara. Semua kutu bergantung pada darah untuk nutrisi mereka tetapi mampu hidup dalam waktu yang lama tanpa makan, biasanya sekitar 2 bulan. Dalam kondisi yang menguntungkan dan disertai dengan sumber t makanan (darah) yang memadai, kutu dapat hidup sampai satu tahun.

Habitat
Kutu selalu ditemukan dekat host, baik dalam kontak langsung seperti di antara bulu atau rambut atau dalam sarang mereka.

2.4.2 GENUS XENOPSYLLA
Klasifikasi, Morfologi, Siklus Hidup, Predileksi Xenopsylla cheopsis
Klasifikasi
Golongan : Animalia
Filum : Arthropoda
Kelas : Insekta
Ordo : Siphonaptera          
Family : Pulicidae
Genus : Xenopsylla
Spesies : Xenopsylla cheopsis

Morfologi
Kutu pada tikus tidak memiliki sisir genal atau pronotal. Karakteristik ini dapat digunakan untuk membedakan kutu tikus oriental dari kutu kucing, kutu anjing,dan kutulainnya.Tubuh kutu adalah hanya sekitar sepersepuluh dari satu inci panjang (sekitar 2,5 mm).
Kutu memilki dua fungsi, yaitu untuk menyemprotkan air liur atau sebagian darah dicerna ke dalam gigitan dan untuk menyedot darah dari tuan rumah. Proses ini memancarkan secara mekanis patogen yang dapat menyebabkan penyakit kutu mungkin. Kutu menghela napas bau karbon dioksida dari manusia dan hewan dan melompat dengan cepat ke sumber untuk memberi makan pada host yang baru ditemukan. kutu adalah bersayap sehingga tidak bisa terbang, tapi bisa lompat jauh dengan bantuan kaki kuat kecil. Sebuah kaki kutu terdiri dari empat bagian. Bagian yang paling dekat dengan tubuh adalah coxa tersebut. Berikutnya adalah femur, tibia dan tarsus.

Siklus Hidup
Tahap Telur
Seekor kutu betina dapat bertelur 50 telur per hari di hewan peliharaan anda. Telurnya tidak lengket, mereka mudah jatuh dari hewan peliharaan anda dan menetas dalam dua atau lima hari. Seekor betina dapat bertelur sekitar 1.500 telur di dalam hidupnya.
Tahap Larva
Setelah menetas, larva akan menghindar dari sinar ke daerah yang gelap sekitar rumah anda dan makan dari kotoran kutu loncat ( darah kering yang dikeluarkan dari kutu loncat). Larva akan tumbuh, ganti kulit dua kali dan membuat kempongpong dimana mereka tumbuh menjadi pupae.
Tahap Pupa
Lama tahap ini rata-rata 8 sampai 9 hari. Tergantung dari kondisi cuaca, ledakan populasi biasanya terjadi 5 sampai 6 minggu setelah cuaca mulai hangat. Pupa tahap yang paling tahan dalam lingkungan dan dapat terus tidak aktif sampai satu tahun. Tahap Dewasa Kutu loncat dewasa keluar dari kepompong nya waktu mereka merasa hangat, getaran dan karbon dioksida yang menandakan ada host di sekitarnya. Setelah mereka loncat ke host, kutu dewasa akan kawin dan memulai siklus baru. Siklus keseluruhnya dapat dipendek secepatnya sampai 3-4 minggu.

Habitat
Xenopsylla cheopis biasanya mendiami habitat tropis dan subtropis, meskipun telah dilaporkan dalam zona sedang juga. Cheopis Xenopsylla jarang ditemukan di tempat yang dingin karena membutuhkan iklim / tropis subtropis untuk menjadi kepompong. Kutu yang lazim di kota-kota besar banyak. Spesies Rattus biasanya ditemukan dalam sistem saluran pembuangan kota dan habitat terkait manusia adalah host yang sangat baik untuk cheopis X.. Pelabuhan laut dan daerah tikus-penuh lainnya juga habitat umum untuk cheopis X..
Kutu adalah parasit nidiculous, mereka tinggal di sarang tuan rumah. Pakaian, tempat tidur dan sofa membuat rumah sempurna untuk banyak dari kutu. Kutu hanya melampirkan menjadi tuan rumah sementara mereka sedang menghisap darah; di lain waktu mereka bebas-hidup di sarang tuan rumah. (Brown, 1975; James dan Harwood, 1969)

2.4.3 GENUS ECHIDNOPHAGA

Klasifikasi
Golongan : Animalia
Filum : Arthropoda
Kelas : Insekta
Ordo : Siphonaptera
Family : Pulicidae
Ordo: Siphonaptera
Genus: Echidnophaga
Spesies : Echidnophaga gallinacea

Morfologi
Echidnophaga gallinacea dewasa  memiliki panjang sekitar  1,5 sampai 4 mm dan bagian  lateral rata.  Echidnophaga gallinacea berwarna coklat tua, bersayap dan memiliki mulut yang membantu dalam menusuk kulit dan menghisap darah dari host. Ada bagian  genal maupun pronotal. Kutu dewasa memiliki kepala yang datar,tajam tetapi miring (tidak melengkung atau membulat).

Telur memiliki panjang  sekitar 0,5 mm. Telur dari Echidnophaga gallinacean berbentuk lonjong berwarna putih mutiara dan oval. Betina yang nonfertil memproduksi telur  yang subur seperti yang  Echidnophaga gallinacean betina lainnya.

Larva  mempunyai panjang sekitar 6 mm.Larva adalah belatung mirip dengan cacing,berwarna kuning / krem ​​dan memiliki segmen tiga belas dengan bulu pada setiap segmen.

Siklus Hidup
Perkawinan terjadi sebelum kedua jenis kelamin melompat di sekitar tanaman bebas. Siklus hidup spesies ini mirip dengan yang irritans Pulex, kecuali pembuahan. Diman betina tetap melekat pada host dan bertelur dalam borok yang telah terbentuk. Larva kemudian jatuh dan memakan sampah organik, termasuk kotoran dari kutu dewasa. Setelah beberapa minggu larva akan berubah menjadi kepompong, kemudian tertutup debu dan kotoran, di mana mereka menjadi kepompong. Kepompong dapat berubah menjadi kutu dewasa dalam beberapa hari, minggu atau bahkan berbulan-bulan tergantung pada kondisi lingkungan. Kutu dewasa muncul mencari inang, kawin dan betina melekat pada host untuk menghasilkan generasi baru. Siklus hidup membutuhkan waktu sekitar 30-60 hari.
Habitat
            Habitat dari Echidnophaga, yaitu burung, tikus, kelinci, anjing, kucing, kuda dan kadang-kadang manusia.           

2.4.4    GENUS PULEX
Morfologi, Klasifikasi, Siklus Hidup, Habitat dan Penyakit yang ditularkan oleh Pulex irritans. Pulex irritans, disebut juga “human flea” atau pinjal orang. Pulex irritans dikenal sebagai pinjal pada beberapa hospes yaitu: babi, anjing, anjing liar dan sebagainya.
 Morfologi
Tidak memiliki sayap, sebagian besar tidak bermata, bentuk tubuh yang pipih dorsoventral, bagian mulut disesuaikan untuk menusuk-isap atau untuk mengunyah, dan memiliki enam tungkai atau kaki yang kokoh dengan kuku yang besar pada ujung tarsus yang bersama dengan tonjolan tibia berguna untuk merayap dan memegangi bulu atau rambut inangnya. Tidak memiliki baik ktenidia genal dan pronatal ktenidia, dahinya membentuk kurva (membulat). Umumnya menginfestasi manusia, tetapi dapat menginfestasi, ayam, babi, anjing, kucing dan tikus.

 Klasifikasi
Klasifikasi Pulex irritans adalah sebagai berikut :
· Golongan : Animalia
· Filum : Arthropoda
· Kelas : Insekta
· Ordo : Siphonaptera
· Family : Pulicidae
· Genus : Pulex
· Spesies : Pulex irritans

 Siklus Hidup
Metamorfosis sempurna, pinjal dewasa dapat hidup 58 hari tanpa makan dan 234 hari bila dapat makan. Pinjal betina bertelur berukurannya kecil berbentuk ovoid, berwarna keputihan dengan panjang 0,5 mm berjumlah 3 – 18 butir setiap hari (sejumlah 448 selama hidupnya, biasanya diletakkan dicelah kandang atau tubuh hospes definitif (tetapi pada umumnya sebelum menetas akan jatuh. Dari dalam telur akan keluar larva berbentuk seperti cacing bergerak aktif untuk mencari makan berupa bahan-bahan organik atau darah yang mengering. Larva terdiri dari 14 segmen yang ditutupi oleh bulu-bulu. Larva akan mengalami ekdisis (menyilih) selama 3 kali dan pergantian kulit yang terakhir terjadi di dalam kokon. Didalam kokon yang biasanya tertutup oleh partikel kotoran, terbentuk pupa yang berwarna keputihan dan akhirnya terbentuk pinjal dewasa. Sampai terbentuknya kokon itu diperrlukan waktu 14-21 hari, lalu menjadi dewasa. Pinjal bisa hidup selama 1 – 2 tahun dan tahan hidup tanpa menghisap darah selama 6 minggu.

Habitat
Pulex irritans mempunyai habitat di berbagai jenis hewan, termasuk manusia.







BAB III
PENUTUP


3.1              Kesimpulan
Siphonaptera adalah serangga lateral, bersayap, dan holometabola. Terdapat hampir 2.575 spesies. Pinjal masuk ke dalam ordo Siphonaptera yang pada mulanya dikenal sebagai ordo Aphniptera. Ordo Siphonaptera terdiri atas tiga super famili yaitu Pulicoidea, Copysyllodea dan Ceratophylloidea. Pinjal merupakan insekta yang tidak memiliki sayap dengan tubuh berbentuk pipih bilateral dengan panjang 1,5-4,0 mm, yang jantan biasanya lebih kecil dari yang betina. Kedua jenis kelamin yang dewasa menghisap darah. Beberapa genus dari Siphonaptera adalah Ctenocephalus cannis (kutu anjing), Ctenocephalus felis (kutu kucing), Pulex irritan (pinjal manusia), Xenopsylla cheopsis (kutu tikus) dan Echidnophaga.











Tidak ada komentar:

Baca Juga Artikel Yang Lainnya:

·