Google Translate

Animal Cafe di Jepang

Patut dibaca buat penyayang hewan dan dokter hewan

Di kota-kota besar Jepang yang
terdapat lokasi perbelanjaan anime
manga, sudah lazim ditemukan
maid cafe. Tetapi ada cafe lain yang
sasaran pasarnya bukan pecinta
anime manga. Cafe ini tak kalah
aneh jika dipandang dari sisi kultur
Indonesia, yaitu animal cafe. Nah
apa pula ini?

Cafe jenis ini selain menyediakan
makanan dan minuman, nilai
jualnya adalah menyediakan hewan
peliharaan. Eits, bukan untuk
dimakan. Namun sebagai salah satu
hiburan bagi pengunjung. Di animal
cafe, pengunjung diperbolehkan
untuk memeluk, mengelus atau
memberi makan. Tentu saja sesuai
dengan aturan pemilik cafe. Tidak
untuk dibawa pulang.
 
Animal cafe diperkirakan muncul
kali pertama sekitar tahun 2004
di kota Osaka. Lalu sejak 2005
popularitasnya naik dan mulai
banyak orang membuka animal cafe
di kota-kota besar. Di Tokyo sendiri
diperkirakan sudah ada lebih dari
40 animal cafe. Total di Jepang
sudah lebih dari 200. Kapasitasnya
bermacam-macam mulai dari 10
hingga 50 pengunjung.
 
Jenis hewan yang tersedia di animal
cafe biasanya hewan domestik
ukuran sedang seperti kucing,
burung, anjing dan kelinci. Ada
juga animal cafe yang menyediakan
binatang eksotik dari keluarga reptil
namun jumlahnya lebih jarang.
Animal cafe yang menyediakan
kucing biasanya paling populer.

Karena kucing cenderung pendiam,
gampang diajak main dan bulunya
yang lembut dan bersih.
Cafe jenis ini populer di kota besar
karena tidak semua orang memiliki
rumah sendiri. Bisa dilihat pada
peta, tanah di Jepang tidak seluas
Indonesia. Oleh karena itu harga
tanah di sana sangat mahal. Saking
mahalnya, kebanyakan orang hanya
mampu menyewa apartemen
ataupun kontrak rumah. Pemilik
apartemen pun sering melarang
untuk membawa hewan peliharaan.
 
Andaipun bisa memelihara hewan,
kalau masih sendirian namun sudah
bekerja biasanya pun tak ada yang
merawat.
Animal cafe menyediakan solusi
bagi orang-orang dalam gambaran
di atas. Hanya dengan biaya
antara ¥800 hingga ¥1200 per jam,
pengunjung bisa bersantai sambil
menikmati hewan-hewan yang
berlalu-lalang. Boleh juga mengelus
dan memberi makan. Sejumlah
pelanggan tetap juga memiliki
hewan favorit yang selalu ingin
dilihat atau dielus. Pengunjung juga
diperbolehkan untuk memotret
hewan-hewan ini.
Salah satu penuturan pemilik cafe,
pengunjung yang kali pertama
masuk dan melihat binatang
biasanya ragu untuk menyentuh.
Bahkan dengan kucing atau kelinci
yang sudah dipastikan jinak. Ini
hal yang wajar bila pengunjung
tersebut tumbuh di kota besar dan
tak pernah ada kesempatan untuk
berinteraksi dengan hewan.
Interaksi dengan hewan merupakan
salah satu variasi bentuk terapi yang
disebut animal-assisted therapy.
Terapi ini sudah dikembangkang
sejak tahun 1920. Melihat tingkah
laku dan kelucuan binatang
dianggap bisa mengurangi depresi,
tekanan darah, kecemasan dan
sebagian stress kehidupan di
kota besar apalagi Tokyo yang
merupakan ibukota negara Jepang.
Namun bagaimana dengan hewan
yang dipekerjakan di animal cafe
tersebut, apakah justru stress
berpindah kepada mereka? Dari
awal sebelum populer hingga saat
ini belum ada berita heboh, hewan
mati karena kerja romusha di animal
cafe. Justru hewan-hewan di Kebun
Binatang Surabaya yang tumbang
satu per satu sampai walikotanya
ikutan bingung. Hewan-hewan ini
dipelihara diperlakukan secara layak
oleh pemilik cafe. Bahkan saat jam
kerja mereka pun biasanya hanya
mondar-mandir atau duduk istirahat
di ruangan cafe. Bagi jenis reptil
istirahatnya di kandang terbuka.
Sebelum ada peraturan khusus,
sejumlah animal cafe membuka
hingga pukul 1 malam dengan
menggunakan sistem shift. Ini
disebabkan beberapa pengunjung
hanya bisa mampir seusai bekerja.
 
Namun sekarang ada peraturan
yang menganjurkan animal cafe
mulai tutup pada jam 8 malam.
(omega8719)

Tidak ada komentar:

Baca Juga Artikel Yang Lainnya:

·