Google Translate

Showing posts with label histologi. Show all posts
Showing posts with label histologi. Show all posts

Struktur Histologi Kulit (Integumentum Communae)

Struktur Histologi Kulit

Pendahuluan
Kulit (Integumentum Communae) menutupi seluruh permukaan badan, terdiri atas lapisan : epidermis dan suatu lapisan jaringan penyambung berupa dermis (korium) serta hipodermis (sub kutis) yang terdiri atas jaringan ikat longgar menghubungkan dermis dengan jaringan dibawahnya.
Fungsi kulit :
1. Membungkus serta melindungi tubuh hewan terhadap pengaruh luar yang merugikan.
2. Ikut mengatur suhu tubuh serta kadar air.
3. Membuang garam dan hasil metabolisme yang berlebihan.
4. Melindungi tubuh terhadap pengaruh fisik, kimia dan jasad renik kedalam tubuh.
Beberapa kelenjar kulit yang berperan dalam berbagai fungsi sekresi kulit, antara lain : Kelenjar Palit, Kelenjar Peluh, Kelenjar ambing dan kelenjar kulit khusus. Beberapa struktur yang merupakan turunan dari kulit adalah : rambut, bulu, kuku, tanduk, jengger, pial dan gelambir.
7.1 Kulit
a.Epidermis
Terdiri atas epithel pipih banyak lapis yang bertanduk, memiliki lima lapis utama yakni :
1.Stratum basale / stratum germinativum : merupakan lapis paling bawah terdiri atas epithel kubis atau silindris sebaris rendah. Lapisan ini bersifat mitosis aktif untuk menggantikan lapis diatasnya yang mati / aus. Pigmen juga bisa ditemukan pada lapis ini selain pada lapis spinosum.
2.Stratum spinosum : sel penyusunnya berbentuk poligonal terdiri atas beberapa lapis, semakin keatas semakin memimpih. Pertautan antar sel yang cukup kuat ditunjang oleh desmosoma, sel memiliki tenofibril yang berakhir pada desmosoma. Lapis ini juga bisa bermitosis.
3.Stratum granulosum : Satu sampai tiga lapis, sel berbentuk elip dan mulai menunjukkan tanda bertanduk (cornification). Sel tersebut mengandung kerantobilia dan fungsinya masih belum jelas diketahui.
4.Stratum lusidum : Beberapa lapis sel yang telah mati, karenanya beraspek homogen. Inti dan organoida tidak jelas tapi desmosoma masih jelas terlihat, sedangkan butir kerato-hyalin nya sudah lenyap berubah menjadi eledin.
5.Stratum korneum : Merupakan lapis sel yang paling luar, selnya bertanduk dan mengandung keratin yang diduga hasil perubahan eledin. Lapis ini pada beberapa tempat tebal dan bila kering akan mengelupas membentuk stratum disjunktum. Khususnya untuk stratum lusidum hanya ditemukan pada daerah yang tidak berambut, misalnya : planumnasale atau bantalan kaki.
Keratin adalah suatu skleroprotein yang sangat resisten terhadap pengaruh kimia dan biasanya keratin yang terdapat pada epidermis adalah keratin lunak dan keratin keras terdapat pada kuku, rambut yang bersifat kurang elastis karena kandungan sulfer tinggi.
b. Dermis / Korium
Sering disebut Kutis vera, merupakan bagian utama kulit, disusun oleh serabut kolagen padat sedangkan serabut elastis dan jaringan ikat lain sedikit.
Korium dibedakan atas dua bagian, yakni :
Ø Stratum papilleare : membentuk jalinan dengan epidermis pada kulit tidak berambut. Tampak papil, dan sering terdapat ujung saraf pembuluh darah serta saluran kelenjar peluh.
Ø Stratum retikulare : Antara stratum papillare dengan stratum retikulare sebenarnya mempunyai batasan yang tidak jelas. Hanya serabut kolagen pada stratum ini lebih padat dan anyamannya mengarah horisontal terhadap permukaan kulit. Didalam ilmu bedah mengetahui arah anyaman serabut kolagen ini sangat penting karena dalam operasi yakni memberikan proses kesembuhan yang lebih cepat.
c. Hipodermis
Hipodermis atau sub kutis terdiri atas jaringan ikat longgar yang banyak mengandung serabut elastis. Dalam keadaan patologis akan membentuk beberapa rongga yang berisi cairan (edema) atau udara (emphysema). Daerah ini juga merupakan tempat perlindungan lemak terutama pada babi. Pada hewan yang gemuk sel lemak dapat menyusup lebih dalam dan terdapat diantara otot. Daerah tubuh yang sedikit terdapat sub kutis adalah : metakarpus kuda, oleh sebab itulah kulit sulit digerakkan karena melekat kuat.
Integementum Mammalia
Epidermis berkembang dari ektoderm dan hipodermis merupakan turunan dari mesoderm. Pada mulanya epidermis tersusun atas beberapa lapis sel berbentuk kubus. Proliferasi dari sel ini menghasilkan lapisan sel epidermis dan proloferasi sel basal menambah dengan cepat ketebalan sel yang berada diluarnya. Invagansi dan proliferasi sel basal bertambah dengan cepat ketebalan sel yang berada diluarnya. Invagansi dan proliferasi sel basal kedalam lapisan dibawah epidermis seperti dermis dan hypodermis menandakan adanya rambut, bulu dan kelenjar, yang mana sel dari jaringan tersebut diatas berhubungan dengan sel epidermis. Dermis dan hipodermis berkembang dari mesenkhim khusus. Poliferasi dan difrensiasi yang cepat dari sel mesenkhim menghasilkan jaringan yang ditandai dengan jaringan ikat longgar dan jaringan ikat padat.
Pigmentasi Kulit
Melanosit adalah sel pembentuk pigmen yang juga dikenal dengan nama : Dermal chromatophore. Terdapat diantara stratum basale dan stratum spinosum tapi dapat juga terdapat pada stratum papillare dari korium.
Sel ini mempunyai bentuk khusus yakni memiliki penjuluran yang menyusup sampai stratum spinosum untuk melepas pigmen melanin pigmen tersebut selanjutnya diambil oleh sel pada lapis tersebut. Melanosit yang tidak berfungsi (istirahat) dikenal dengan “sel cerah” (clear cells). Sedangkan melanosit yang berfungsi dapat dikenali dengan reaksi DOPA (dihydroxyphenylalanine) yaitu melakukan sintesa komplek mengubah DOPA menjadi melanin. Reaksi DOPA inilah yang membedakan sel yang dapat membuat pigmen dan sel yang hanya menampung pigmen dalam epidermis.
Melanin berfungsi melindungi tubuh terhadap pengaruh sinar ultraviolet yang memiliki daya tembus kuat. Sebagian sinar ditahan oleh pigmen melanin. Pada beberapa organisme melanin mungkin tidak ada ( albinisme) mis : kerbau, sapi, harimau dan kera. Dari segi perkembangan ternak piara, albinisme agaknya dianggap suatu cacad keindahan. Kenyataan pada derajat albino yang kuat terdapat gejala takut sinar (photophobia) dan kondisi tubuhnya lebih lemah dari normal. Peristiwa hilang atau tidak cukupnya produksi melanosit yakni sel penghasil melanin juga disebut White Spots.
Kulit daerah Khusus
Beberapa bagian dari kulit ada yang berambut dan ada yang tidak atau gundul. Beberapa bagian tubuh ditandai dengan epidermis yang tebal, sedangkan bagian yang lain tipis. Sama halnya dengan dermis, ketebalannya beragam dalam penyebarannya keseluruh tubuh. Dermis adalah bagian yang paling tebal dari kulit. Kulit daerah tertentu beragam bentuknya, hal ini erat hubungannya dengan cara kerjanya, cara hidup, penyebaran dan tipe kelenjar serta ketebalan kulit merupakan adaptasi fungsional yang paling idela terhadap lingkungan sekitarnya.
1. Bantalan Kaki (Digital pad / food pad)
Bantalan kaki hewan karnivora mengalami penandukan yang hebat menebal, berpigmen kuat dan bagian kulit yang tidak berbulu berguna untuk perpindahan (lokomosi). Bantalan kaki ini tahan terhadap abrasi dan efektif sebagai penyerap goncangan.
2. Skrotum
Kulit skrotum umumnya paling tipis dalam tubuh, stratum korneum tidak berkembang dengan baik dan dermisnya kurang luas. Kelenjar tubuler apokrin dan kelenjar palit ditemui disini. Rambut tubuh halus dan pendek. Serabut otot polos dari tunika dartos mengadakan persilangan dengan serabut kolagen dan elastis dari dermis. Tunika dartos dapat dipengaruhi oleh suhu sekitarnya dan bertanggung jawab atas kedudukan relatif testis terhadap dinding tubuh. Pada derajat yang tinggi otot ini akan berelaksasi, skrotum akan meregang karena dipengaruhi oleh berat testis sehingga kedudukan testis akan menjauhi dinding tubuh sebaliknya terjadi apabila derajat suhu merendah.
3. Hidung
Planum nasale karnivora terbentuk dari penebalan dan pertandukan yang hebat dari epidermis disertai dengan tidak adanya kelenjar palit dan kelenjar tubuler. Planum nasale sapi dan ruminansia kecil tidak berbulu dan mengandung kelenjar merokrin tubuler yang melembabkan permukaannya. Epidermis tebal dan menanduk dengan hebat. Penandukan yang hebat dari planumrostale babi mengandung banyak kelenjar merokrin ubuler dan ditutupi oleh rambut yang jarang. Rambut yang halus dan kelenjar palit menandai kulit yang tipis di sekitar lubang hidung kuda.
4. Meatus Akustikus Eksternus
Merupakan saluran yang menghubungkan antara lubang telinga dengan genderang telinga. Saluran ini dilapisi kulit dengan folikel rambut yang kecil, kelenjar palit dan kelenjar tubuler apokrin yang telah bermodifikasi (kelenjar seruminous) dijumpai disini. Dermis dari saluran ini bercampur dengan perikhondrium dan periosteuon tulang rawan dan penunjang telinga.
Kulit Ayam
Secara garis besar kulit ayam sama dengan mamalia, terdiri atas epidermis dan korium. Lapisan epidermis agak tipis hanyai beberapa lapis sel. Strtaum korneum jelas, papil tidak tampak . Korium terdiri atas dua bagian, bagian superfisial jalinan serabut kolagen lembut dan bagian profundal lebih kasar.
Sub kutis tebal dan banyak mengandung lemak, oleh sebab itu gampang digeser, sedangkan subkutis pada kaki tipis, karena kurang bertaut erat pada tulang kecuali bantalan kaki yang agak tebal dan padat dengan sel lemak dengan septa dan mengandung pembuluh darah.
2. Kelenjar Kulit
2.1 Glandula Surodifera
Dibedakan atas dua type yakni : bentuk merokrin dan bentuk apokrin
a. Bentuk Merokrin
Bentuk kelenjar ini lebih banyak terdapat pada kulit yang sedikit atau tidak terdapat rambut misal : telapak kaki. Lumen ujung kelenjar agak sempit dan epithelnya berbentuk kubis, sel epithel mengandung lemak, glikogen dan kadang pigmen. Pada ujung kelenjarnya terdapat mioepithel yang lebih jarang dari bentuk apokrin. Tempat bermuaranya pada permukaan kulit dan sekretanya lebih bersifat cair dari pada bentuk apokrin.
b. Bentuk Apokrin
Banyak tersebar pada permukaan tubuh hewan piara karena selalu berkaitan dnegan rambut. Disebut apokrin karena sebagian dari ujung kelenjarnya tampak lebih luas dari merokrin dan kutub bebasnya terlepas sebagai sekreta. Bentuk epithel silindris dan tergantung aktivitasnya keadaan mioepithel relatif lebih rapat.
Tipe apokrin berkembang baik pada mamalia. Glandula sudorifera tersebar hampir seluruh permukaan tubuh kecuali pada : gland penis, kulit dalam preputium dan membrana timpani. Kelenjar ini dilengkapi dengan sel mioepithel (Basket cells) yang terdapat diantara kutub basal epithel dan membran basal.
Kelenjar peluh menghasilkan peluh, berbentuk cairan dengan bau khas. Sekresi kelenjar merokrin ternyata lebih encer. Bau khas kelenjar apokrin pada hewan ada kaitannya dengan kehidupan seks dan daya tarik seks. Dalam kelenjar peluh terdapat ureum pada kuda menyebabkan terjadinya busa, garam NaCl, Kholesterin, asam urin dan lain-lain.
Kelenjar peluh pada berbagai hewan piara berbeda dalam beberapa aspek, kuda lebih cepat mengeluarkan peluh karena kelenjar merokrin relatif banyak, ruminansia besar agak kurang. Sedangkan kelenjar peluh pada anjing dan kucing bersifat rudimenter, karenanya apabila panas lidah menjulur keluar untuk mengatur suhu tubuhnya. Pada daerah tertentu suhu tubuh tampak subur, misalnya : didaerah ventral ekor pada domba, daerah puting susu pada babi dan daerah pinggir berambut. Pada manusia kelenjar merokrin tersebar seluruh tubuh sednagkan kelenjar apokrin terdapat didaerah aksilia. Kelenjar peluh sebenarnya adalah alat pembuang metabolit disamping sebagai termoregulator.
2.2 Glandula Sebasea
Disebut juga kelenjar palit, membentuk semacam lobulus yang memiliki membran basal. Alat penyalurnya terdiri atas sel epithel pipih atau kubis rendah selapis dan bermuara didaerah folikel. Cara rekresi kelenjar ini adalah holokrin, sel tua hancur dan menjadi sebum (minyak) yang berguna untuk meminyaki rambut atau bulu, sebum mengandung protein dan kholestrin. Bentuk kelenjar palit ini tergantung dari lebat atau jarangnya rambut, besar atau kecilnya rambut, jenis hewan dan daerah pada tubuh.
2.3 Glandula Mammaria
Kelenjar ini merupakan kumpulan kelenjar tubulo-alveolar, yakni modifikasi kelenjar keringat. Kelenjar ambing ini terdiri atas : puting dan ambing.
Ambing disusun oleh : kapsula, jaringan ikat interstitial, epithel pansekresi dan sistem saluran pengeluaran. Penyebaran jaringan ikat dan parenkhim berfungsi dalam aktivitas sekresi dari kelenjar. Kelenjar yang berlaktasi aktif mempunyai sekresi dari kelenjar. Kelenjar yang berlaktasi aktif mempunyai lebih banyak parenkhim dan sedikit jaringan ikat dan keadaan akan berbalik apabila kelenjar tidak berlaktasi. Dengan demikian struktur kelenjar ambing pada hewan dewasa yang inaktif (tidak menyusui) berbeda dengan yang aktif dan yang sama sekali belum beranak (dara).
Ciri khas kelenjar ambing masih aktif, ditandai dengan adanya benda kasein yang terdapat pada sisa alveoli, alat penyalur atau pada jaringan ikat bekas alveoli. Pengurangan ujung kelenjar secara progresif diimbali dengan terbentuknya jaringan ikat dan jaringan lemak. Pada permulaan laktasi dimulai dengan perkembangan ujung alat penyalur yang nantinya menumbuhkan ujung kelenjar (alveoli) yang diatur oleh pengaruh hormon progesteron selama proses kebuntingan.
Strukutur histologi kelenjar ambing sebagai berikut :
Ø Stroma : mencakup kapsula, septa dan jaringan interstitial atau interaveolar yang semuanya terdiri atas jaringan ikat sebagai kernagka / penunjang.
Ø Parenkhim : Mencakup ujung kelenjar yang berbentuk tubulu alveolar bercabang majemuk dan alat penyalur. Pada hewan muda yang belum beranak ujung kelenjarnya tidak / belum tampak yang nampak hanya alat penyalur dengan banyak jaringan ikat interstitial, bahkan tampak sel lemak. Pada lumen terdapat susu.
Alveoli
Epithelnya berbentuk kubis rendah atau silindris rendah pada yang aktif, jadi tergantung pada status fisiologinya. Pada permukaan epithel tampak mikrovili dan pada sitoplasma tampak benda golgi, butir lemak memiliki selaput ganda, protein. Pada susu sapi terdapat sekitar 3-4 %. Alveoli dikitari sel mio-epithelium.
Alat Penyalur
Satu atau dua alveoli sekreta dialirkan melalui duktus intralobularis, dengan epithel kubis yang kitari sel mio-epithelium. Epithel alat penyalur masih dapat bersekresi meskipun intensitastnya agak kurang. Pada saluran yang agak besar bentuk epithelnya kubis dua lapis dengan ada tanda bersekresi.
Sinus Laktiferus
Sinus ini merupakan penampung sekreta susu dari loburus atau lobus. Epitel silindris banyak baris dan dikitari oleh serbaut elastis dan otot polos. Sinus ini biasanya menjulur sampai daerah puting susu (Papilla mamae).
Puting Susu
Terdiri atas empat bagian yakni :
Ø Saluran puting susu : Epithelnya pipih banyak lapis dan bertandu, selaput lendir membentuk lipatan dengan jaringan ikat sebagai tunika propriaa sub-mukosa. Kuda memiliki dua samapai empat buah, ruminansia satu, babi dua sampai tiga buah, kucing empat-tujuh, anjing delapan-20 buah dan manusia 13-24 buah.
Ø Sinus puting Susu : Epithel silindris atau kubis dua lapis, selaput lendir membentuk lipatan melingkar dan longitudinal, dengan jaringan limferetikular pada tunika propria.
Ø Stingter puting susu : otot polos yang tersusun melingkar antara propria sub-mukosa dan hipodermis, sering pula tampak otot yang tersusun memanjang.
Ø Kulit puting susu : Epithelnya pipih banyak lapis bertanduk, korium terdiri atas serabut kolagen pekat seperti kulit. Hipodermis relatif tipis.
2.4 Kelenjar Kulit Khusus
Kelenjar kulit khusus perlu kita kenali karena mempunyai peranan klinis yang cukup penting. Kelenjar tersebut antara lain :
a.Glandula Anales.
Pada babi sekreta bersilat mukus sedangkan pada anjing berbentuk lemak bermuara diluar zona kolumnaris ani didaerah zona intermedia. Pada daerah peralihan anus dan rektum babi dan karnivora membentuk zona kollmnaris ani dengan jaringan limfoid dan fleksus venosus.
b.Sinus Paranales (anal sac)
Terdapat pada ujung dinding lateral dubur, berbentuk kantong berisi sekreta mirip lemak berwarna kelabu dan busuk. Kantong ini mempunyai epithel pipih banyak lapis dan pada tunika propria terdapat kelenjar, folikel getah bening, otot polos dan jaringan pengisi yang bersifat fibroelastis.
c.Glandula circumanales
Kelenjar ini jelas terdapat pada anjing. Terdapat dua macam yakni superfisial berbentuk kelenjar palit dengan alat penyalur pada folikel rambut dan profundal bersifat non subaseus membentuk lobulus dengan sel poligonal, berinti pucat. Butir sekretanya mengandung protein yang nantinya membentuk sekreta bersifat mukus.
d.Glandula tarsalia (Kelenjar Meibom)
Terdapat pada kelopak mata yang lebih subur pada kelopak mata atas. Disekitar alat penyalur terdapat lobulus yang mengelompok menghasilkan sekreta berbentuk lemak didaerah pinggir palpebra yang berfungsi mengurangi pengeluaran air mata.
e.Glandula preputiales
Berbentuk kelenjar kulit pada bagian dalam prepusium. Kuda persebaran kelenjar ini berbentuk cincin. Pada babi terdapat sakus prepusialis yang memiliki papil dengan banyak folikel getah bening. Pada manusia kelenjar ini dikenal sebagai kelenjar Tyson yang menghasilkan smegma berbentuk keju.
f.Glandula uropigealis
Satu-satunya kelenjar kulit yang terdapat pada ayam (unggas), letaknya dibagian dorsal pada ruas ekor terakhir. Terdapat sepasang, pada unggas air pertumbuhan kelenjar ini lebih subur. Sekretanya berfungsi melicinkan bulu.
TURUNAN KULIT
3.1 Rambut
Merupakan serabut epidermis yang telah bermodifikasi. Rambut juga melakukan fungsi sebagai alat penutup, pelindung dan penerima rangsangan. Rambut berkembang sebagai penebalan setempat epidermis, selanjutnya mengadakan invaginasi kedalam lapisan jaringan ikat dan kemungkinan meluas sampai ke hypodermis.
Istilah rambut dan bulu untuk hewan memang sering dipakai tetapi istilah bulu dikhususkan untuk bangsa unggas. Hampir seluruh permukaan tubuh hewan dibungkus rambut, kecuali pada beberapa tempat tertentu, seperti : daerah moncong termasuk hidung, telapak kaki, daerah mukokuteneus.
Secara morfologis rambut terbagi atas :
Ø Batang rambut : Bagian rambut yang tampak dari luar, bertanduk dan berpigmen terdiri atas : kutikula rambut, berbentuk epithel pipih bertanduk dengan sisa inti yang tampak. Medulla : jumlah sel nya sedikit mengandung pigmen tapi banyak mengandung butir tikhohialin.
Ø Akar rambut dan Follikel rambut Follikel rambut merupakan invaginasi epidermis dan korium, dibagian tengah menjulur papil rambut dan dibedakan atas : Selubung akar dalam (kutikula, lapis huxley, lapis henle), Selubung akar luar, Lapis basal (Glassy membrane)
Ø Pada follikel rambut bertaut otot polos yang disebut “musculus arrectores pilorum” yang berfungsi menegakkan rambut atau bulu pada saat marah atau ketakutan (ayam dan angsa).
Rambut Sinus
Rambut sinus mirip dengan rambut biasa, hanya lebih besar dan folikel rambutnya terdapat anyaman pembuluh darah. Pada ungulata membentuk trabekula pada karnivora bentuk trabekula tidak tampak pada daerah superfisial sedangkan bagian propundal pembuluh darah sinus relatif kecil demikian juga pada babi.
Siklus Rambut
Dibedakan atas tiga tahapan yakni : anagen, katagen dan telogen. Anagen adalah periode dimana rambut telah tumbuh sempurna, yakni didahului dengan aktifitas mitosis sel kecambah dan sel kerucut rambut. Periode katagen ditandai dengan perubahan secara perlahan dalam kerucut rambut. Sel kecambah berkembang dibawah rambut, batang bentukkan ini menandai periode telogen yang mungkin bertahan selama beberapa minggu. Jadi mitosis yang berkelanjutan akan memanjangkan rambut.
3.2 Bulu
Bulu berasal dari epidermis dan mirip dengan rambut pada manusia, berkembang dalam folikel. Bulu dalam hal ini adalah bulu ayam. Bulu ayam hampir menutupi seluruh tubuh kecuali paruh, balung, pial dan kaki.
Pada ayam dikenal tiga yakni :
a. Bulu bentuk (contour feather) : Bulu elar (untuk terbang) Bulu ekor (mengatur keseimbangan waktu terbang / remics)
Remices primer : tumbuh dari daerah karpal dua, tiga dan digit.
Remices sekunder : tumbuh dari daerah sayap dan selebihnya.
b. Bulu bawah (plumae) : lebih kecil dan halus
c. Bulu halus (fitoplumae) : lebih halus dari plumae
Follikel bulu ayam menembus kulit secara miring, tertanam dalam sampai subkutis disebabkan karena bentuk bulu yang cukup besar.
Secara umum bagian bulu sebagai berikut :
a. Tangkai
Calamus : bersifat tembus cahaya dan berongga berisi udara
Rachys : merupakan axis dari vekillum
b. Sayap (Vexillum / vane) : berbentuk lamel yang langsing, tumbuh secara berpasangan dis : Barbs. Dari barbs tumbuh lamel berpasangan yang lebih halus dis : Barbules. Barbules yang keluar dari tiao barbs membentuk jalinan sehingga sayap cukup rapat dan elastis yang menguntungkan waktu terbang.
3.3 Kuku
Terutama untuk karnivora disebut : kuku, teracak untuk ruminansia dan sepatu kuku untuk kuda. Daerah kuku dikenal adanya epidermis (kuku sebenarnya), korium (pododerm) dan sub kutis.
Sayatan melintang dinding sepatu kuku dapat dibedakan atas :
a. Stratum tektorium : Merupakan ratis kuku yang paling luar dan tipis, bentuk sel sudah lenyap lebih-lebih pada kuku tua. Terdiri atas buluh tanduk yang masih lunak dan tidak berpigmen.
b. Stratum medium : Bagian kuku yang paling tebal, keras kuat karena padat. Didalamnya terdapat buluh tanduk yang mengandung bahan tanduk. Tiap buluh tanduk mengandung bagian korteks dan medulla. Stratum germinativum pada ujung dua papil didaerah kroon membentuk buluh tanduk, sedang selebihnya membentuk bahan tanduk intertubuler yang tumbuh kearah distal. Daerah ini berpigmen.
c. Stratum lamellatum : Pada kuku yang masih hidup dikenal adanya : lamel epidermal yang merupakan kuku sebenarnya dan lamel korium yang merupakan pododerm.
Pododerm
Struktur pododerm berbeda dengan korium kulit, karena pada pododerm terdapat pembuluh darah besar. Pododerm banyak mengandung serabut kolagen dan elastis juga terdapat stratum papilare dan stratum reticulare. Didaerah koroner korium paling tebal, sebaliknya dipinggiran tipis.
Pododerm daerah dinding kuku membentuk lamine coriales, primer dan sekunder. Di bagian depan lamine relatif lebih subur dibandingkan dengan daerah belakang.
Teracak
Pada teracak bulb dan frog tidak ada sedangkan sol sangat kecil. Laminae epidermal sekunder tidak ada, sednagkan yang primer panjang, langsing dan kadang bercabang. Sedangkan kuku untuk karnivora mempunyai dinding kuku bilateral pipih, dan daerah pertemuan dermis dan epidermis pada garis tengah agak lunak.
3.4 Tanduk
Merupakan penjuluran o. frontale yang disebut posessus kornualis, berongga dan berhubungan dengan sinus frontalis. Epidermis membentuk stratum kornium yang tebal yang selanjutnya membentuk horn sheats dan didaerah akar tanduk berbentuk epikeras. Epikeras terdiri atas bahan tanduk lunak homolog dengan periopel kuku, pada tanduk terdapat buluh halus yang dibagian tengah memiliki unsur medulla.
Pada tanduk sering tampak cincin tanduk yang sering dihubungkan dengan perubahan periodik pertumbuhan terutama : kerbau dan domba. Sedangkan sisik, paruh dan taji pada ayam secara garis besarnya memiliki struktur mirip kuku.
Perbaikan Kerusakan Kulit
Kulit merupakan subyek dari berbagai tipe luka atau kerusakan keutuhan anatomi abrasi, kontusio, laserasi punstio dan insisi. Perbaikan kulit merupakan hal yang komplek dan dinamis dan aktivitas selular diawali dari luka dan persambungan pada seluruh jaringan yang terluka. Walaupun perbaikan luka menggambarkan persambungan dari aktivitas sel secara keseluruhan, untuk membahas proses perbaikan ini dibagi atas beberapa tahap, yakni : perlukaan, induksi, inflamatori dan tahap maturasi.
Yang terlihat dalam perbaikan kulit adalah epidermis, dermis dan hypodermis. Kebanyakan proses abrasi ringan pada epidermis tanpa kerusakan dermis umumnya mampu diperbaiki melalui aktivitas mitosis stratum basale epidermis.

Histologi Sistem Limfatika




SISTEM LIMFATIKA
Sistem ini tersusun oleh komponen selular dan cairan, dilengkapi dengan:
- organa lumfatika yang mencakup : nodus lymphaticus, termasuk pula lempeng Peyer, lien, thimus dan tonsilia
- vasa limfatika, yang terdiri atas : vas limfokapillare dan vas limfatikum
A. ORGANA LIMFATIKA
1. Nodus LimfatiKus
Dikenal dua jenis yaitu : memiliki capsula., susunannya sebagai berikut :
a. Capsula merupakan selubung terdiri atas jaringan ikat fibrus padat mengandung banyak berkas kolagen dan elastis. Di sini ada 2 macam pembuluh limfa.
Vas lymphaticum afferens : memasuki nodus di bagian konvesk.
Vas lymphaticum efferens : meninggalkan nodus pada bagian konkaf. Di bagian ini yang disebut hilum masuk dan keluarlah juga pembuluh darah dan saraf. Dinding pembuluh limfa dilengkapi otot polos.
Trabecula dipercabangkan oleh capsula, masuk ke dalam modus, mengandung banyak berkas kolagen dan membagi nodus secara tuntas.
b. Cortex : bagian luar nodus, terpisah dari capsula oleh rongga bernama sinus subcapsularis. Cortex tersusun oleh :
Nodulus lymphaticus : bundar sebagai kumpulan padat lymphocyti. Pada nodulus bagian pusat letak sel kurang berpadatan. Pusat ini disebut centrum germinale ; disini lymphocytus B mengalami diferensiasi menjadi plasmocytus. Daerah tepi nodulus dengan lymphocity yang berpadatan dinamakan corona.
- Medulla merupakan pusat nodus lymphaticus, terpulas lebih pucat, terdiri atas :
Chorda medullaris, tersusun oleh :
· Jaringan lymphoid
· Plasmocytus
· macrophagocytus
Sinus medullaris sebagai rongga
- Stroma : beberapa jaringan ikat retikuler, terdiri atas 2 komponen :
Komponen sel :
Substantia intercellularis : mengandung berkas kolagen dan retikuler.
- Sinus Lymphaticus : rongga berbentuk kurang teratur. Susunan dinding :
Dua macam sel
· Reticulocytus
· Macropagocytus stabilis
Serabut retikuler
Rongga ini menampung cairan limfa dari vas lymphaticus afferens di bawah capsula sebagai sinus subcapsularis. Dari sini limfa ditampung oleh sinus medullaris di medulla dan akhirnya dikumpulkan oleh vas lymphaticum efferens meninggalkan nodus di hilum.
TEMPAT : tersebar sepanjang vasa lymphatica, di daerah ketiak, lipat paha, leher, dada dan perut, sepanjang pembuluh darah.
1.1 Tanpa capsula : di dalam dinsing usu nodus lymphaticus ini bergerombol-gerombol membentuk lempeng Peyer.
FUNGSI nodus lymphaticus :
- tempat penyaringan benda asing seperti partikel, bakteri, virus
- tempat penambahan lymphocytus melalui cortex
- tempat pemasukan lymphocytus B
- sebagai komponen sistem pertahanan tubuh yang dilakukan secara :
seluler oleh lymphocytus T
humoral oleh lymphocytus B
HISTOGENESISI : Nodus lymphaticus berasal dari saccus lymphaticus embryonalis. Nodus lymphaticus babi : memiliki sedikit perbedaan, dimana arah atau letak vas lymphaticum afferens dan vas lymphaticum efferensnya terbalik. Sedangkan nodulus lymphaticus terletak disebelah perifer.
2. LIEN atau SPLEN
Alat tersebsar di antara organ lymphatica. Struktur :
- tunica serosa membungkus lien berupa epitel pipih selapis, sebagai bagian mesothelium (berasal dari peritoneum)
- capsula atau tunica fibrosa berupa jaringan ikat fibrus padat, berisi :
o banyak berkas kolagen
o sedikit otot polos
o berkas elastis di bagian dalam
Capsula mempercabangkan trabecula, yang masuk membawa :
- banyak berkas kolagen
- sedikit otot polos
- berkas elastis di bagian dalam
capsula mempercabangkan trabecula, yang masuk membawa :
o lebih banyak berkas elastis
o otot polos
o berkas kolagen yang berhubungan dengan berkas retikuler berasal dari pulpa.
- Pulpa. Dikenal 2 jenis :
a. Pulpa alba yang tersusun oleh :
o nodulus lymphaticus dengan : a lymphonoduli (dulu ; a centralis) yang ada di tepi nodulus lymphaticus (lymphonodulus).
o zona marginalis : daerah tepi, di luar lymphonodulus, kurang padat
Ciri :
· lymphocytus Y ; di sekitar a lymphonoduli
· lymphocytus B ; di zona marginalis
b. pulpa rubra yang tersusun oleh :
- chroda splenica, terdiri atas 2 komponen :
serabut retikuler dan kolagen, yang berhubungan dengan serabut pulpa.
Reticulocytus, macropaghocytus, plasmocytus, del darah.
- sinus venularis : suatu venula postcapillaris yang menghubungkan capilarum terminale dengan vena pulpae rubrae (lihat “Vascularisatio” di bawah). Dinding sinus venularis tersusun oleh :
endothelium, membatasi rongga, sel fusiform, inti bulat, sentral.
Serabut elastis dan serabut pulpa yang merupakan berkas dan dinamakan : fira reticularis annularis.
Pada dasarnya gambaran mikroskopis lien dibedakan menjadi tiga tipe yang menyolok. Berdasarkan fungsinya sebagai lien penyimpan dengan capsula tebal dan pulpa merah yang dominan, sedangkan pulpa putih sedikit. Sebaliknya lien tipe pertahanan capsulanya tipis dengan pulpa putih yang dominan, pula merah sedikit. Lien tipe peralihan gambaran mikroskopis terletak diantara 2 tipe tersebut diatas.
Contoh tipe-tipe lien dari lien penyimpan sampai lien pertahanan urutannya adalah sebagai berikut :
- Lien penyimpan : kuda, anjing, kucing
- Lien tipe peralihan : babi, sapi, biri-biri, kambing
- Lien pertahanan : manusia, kelinci, lagomorf
VASCULARISATIO :
- a lienalis masuk melalui hilum menjadi a. Trabecularis 9tipe : otot). Setelah mencapai diameter 0.2 mm, arteria meninggalkan trabecula, menjadi a.lymphonoduli (dulu : a centralis). Pada arteria ini tunica adventitia diganti oleh jaringan limfatik yang menyelubunginya sebagai vagian periartialis lymphatica, di dalam pulpa alba, Arteria ini bercabang-cabang. Setelah mencapai diameter 40 – 50 mm, a lymphonoduli meninggalkan pulpa alba, memasuki pulpa rubra, bercabang-cabang menjadi kecil, lurus. Bangunan terakhir ini dinamakan pula penicillum, terdiri atas 3 bagian :
o arteriola penicillaris : bagian terpanjang ; tunica media terdiri atas sel otot polos selapis, serabut elastis dan jaringan limfatik
o arteriola ellipsoidea (vaginata) : endothelium diselubungi serabut reticuler, reticulocytus dan macrophagocytus.
o Vas capillarum terminale : ini melanjutkan diri sebagai sinus venularis. Sebagai kapiler yang merupakan ujung akhir sistem arteria, maka dinding pembuluh dilapisi endotel selapis.
- Vena Pulpae rubra menerima darah dari sinus venularis, masuk ke dalam pulpa rubra. Dinding vena terdiri atas endothelium, diperkuat oleh stroma pulpae rubrae, V. Pulpae rubra bercabang membentuk V. Trabecularis dengan dinding yang berupa endothelium, diperkuat oleh jaringan ikat trabecula.
FUNGSI : Lien bertugas :
- menyaring benda asing
- menghancurkan erythrocytus tua, sel darah yang rusak atau cacad dan thrombocytus.
- Sebagai tempat penimbunan erythrocytus
- Sebagai salah satu komponen penting sistem pertahanan tubuh.
HISTOGENESIS :
Lien berasal dari sel-sel mesenchyma, dorsal dari mesogastrium.
KEDUDUKAN DALAM KLINIK
Walaupun lien merupakan alat penting, namun splenectomia (pengangkatan lien dari tubuh) tidak banyak mempengaruhi individu, sebab tugas lien dapat diambilalih oleh medulla ossium, hepar atau nodus lymphaticus.
3. THYMUS
Alat yang terletak cranial terhadap strenum dalam rongga dada berbeda dengan nodus lymphaticus karena tidak memiliki pembuluh limfa yang masuk maupun ke luar.Pada kehidupan fetus dan selama 2 tahun pertama kehidupan postnatal, thymus berukuran terbesar. Sejak usia 2 tahun sampai pubertas alat makin mengecil. Sesudah pubertas alat mengalami involutio.
- Capsula : jaringan ikat fibrus, membungkus thymus dan membagi thymus menjadi 2 lobi. Tiap pobus tersusun oleh :
- Cortex : daerah tepi, dihuni oleh :
Lymphocytu berpadatan, dinamakan thymocytus, 2 jenis :
· Thymocytus magnus : besar, di tepi
· Thymocytus parvus : kecil, di pusat
Cortex merupakan tempat produksi lymphocytus.
Macrophagocytus yang makan sel-sel yang mati.
- Medulla : Daerah pusat. Sel-sel sama besar, lebih berjauhan. Banyak lymhoblastus dan reticulocytus tampak di sini. Seringkali terlihat bangunan kebulat-bulatan, tersusun oleh sel-sel epitel yang letaknya konsentris, dinamakan corpusculum thymicum : bagian pusat sering mengapur atau mengalami degenerasi.
FUNGSI :
Thymus :
- menghasilkan getah thymosin untuk menjaga agar fungsi alat limfatik lain berjalan lancar.
- Menghasilkan thymocytus.
- Merupakan komponen sistem pertahanan tubuh.
INVOLUTIO :
Proses ini mulai dengan penipisan populasi lymphocytus di cortex. Sel epitel mulai tertekan dan diganti oleh sel lemak, terutama di daerah septum interlobulare. Nedulla mengalami atrofi setelah pubertas. Akhirnya corpusculum thymicum ikut diganti.
HYSTOGENESIS : Thymus berasal dari saccus pharyngelais III dan IV.
Pengaruh Hormon
- ACTH dan hormon seks betina & jantan dapat mempercepat involutie
- Somatotropin (STH) merangsang perkembangan thymus.
4. TONSILLIA
Struktur : alat ini tersusun oleh kumpulan noduli lymphatici.
- capsula : jaringan ikat fibrus padat yang berperan :
membungkus tonsilia palatina
perintang penyebaran radang tonsilia palatina
- epithelium squamosum stratificatum : melapisi permukaan alat. Di beberapa tempat epitel membuat lekukan : crypta tonsillaris yang sering ditimbuni bakteri, lymphocytus, sel epitel, dan sebagainya. Crypta dapat bercabang sebagai :
crypta tonsillaris primaria
crypta tonsillaris secundaria
Fungsi : alat ini merupakan komponen sistem pertahanan tubuh.
II. VASA LYMPHATICA
1. Vas Lymphocapillare
Pembuluh terkecil ini merupakan ujung awal sistem pembuluh limfa. Ujung membulat dan buntu. Dalam perjalanan cabang-cabang pembulus saling berhubungan, membentuk anyaman : rete lymphocapillare.
Struktur : dinding tersusun oleh endothelium selapis, diperkuat oleh serabut-serabut halus, penghubung sel endotel dengan jaringan di kelilingnya dan dinamakan fibra fixationis.
2. Vas Lymphaticum
Struktur : dinding pembuluh ini lebih tebal daripada vas lymphocapillare.
Lapisan yang menyusun dinding dari dalam ke luar adalah :
- tunica intima tersusun oleh :
o endothelium
o stratum subondotheliale berisi serabut elastis, simpang siur
- tunica media tersusun oleh :
o otot polos, berlapis-lapis, melingkar
o serabut elastis sedikit.
- tunica externa tertebal tersusun oleh :
o serabut kolagen dan elastis
o otot polos
VALVULA : pembuluh dilengkapi katup : valvula. Katup ini :
- berpasangan, merupakan lipatan tunica intima
- kedua belah sisi dilapisi endotel
- mempunyai pangkal melebar, membatasi sinus valvularis
- mempunyai otot polos di tunica media
Dikenal 2 jenis vasa lymphatica :
a. vas lymphaticum fibrotypicum : unsur jaringan ikat menyolok.
b. Vas lymphaticum myotipicum : unsur otot lebih menyolok. Dinding :
- tunica intima :
endothelium
serabut kolagen
serabut elastis : sepadat membrana elastica interna
- tunica media : otot polos dengan serabut elastis di sela-selanya
- tunica adventitia : serabut kolagen diselingi serabut elastis dan otot polos.
Termasuk jenis ini : ductus lymphaticum dextrum dan ductus thoracicus. Vasa lymphatica vasorum : di sinding ductus thoracisus, sampai mencapai tunica media.

Baca Juga Artikel Yang Lainnya:

·